Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Reli pasar negara berkembang (emerging markets) Asia mulai kehilangan tenaga pada perdagangan Selasa (26/5/2026) setelah serangan terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran kembali meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Melansir Reuters, saham-saham di kawasan emerging Asia bergerak melemah setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam sepekan.
Baca Juga: Pesan Haji Pemimpin Tertinggi Iran: Rezim Zionis di Ambang Kehancuran, Apa Artinya?
Pelemahan dipicu aksi ambil untung investor di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Tekanan muncul setelah Washington melancarkan serangan baru ke Iran, meskipun negosiator utama dan Menteri Luar Negeri Iran tengah berada di Doha untuk melakukan pembicaraan diplomatik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan bahwa proses negosiasi dengan Iran masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi.
Pernyataan tersebut semakin meredam optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat.
Indeks MSCI saham negara ASEAN turun 0,4%. Bursa Singapura yang memiliki bobot terbesar dalam indeks tersebut melemah hingga 0,6%.
Baca Juga: CEO Open AI: AI Tidak Akan Picu Kiamat Pekerjaan Global
Sementara itu, saham di Filipina, Malaysia, dan Indonesia terkoreksi antara 0,5% hingga 1%.
Chief Economist Trimegah Securities Fakhrul Fulvian mengatakan pergerakan pasar yang cenderung campuran mencerminkan sikap investor yang mulai lebih berhati-hati.
“Investor mulai membedakan antara sentimen positif sementara akibat harapan perdamaian dengan kerentanan fundamental ekonomi kawasan,” ujarnya.
Chief Investment Officer Asia ex-Japan BNP Paribas Asset Management Ecaterina Bigos menambahkan, gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak berpotensi menghambat penurunan inflasi.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan.
Baca Juga: Korea Selatan Berencana Luncurkan Kapal Selam Nuklir Pertama pada Pertengahan 2030-an
Negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi menjadi pihak yang paling terdampak akibat lonjakan harga minyak dalam dua bulan terakhir.
Kondisi ini menekan neraca transaksi berjalan, memicu arus keluar modal, serta melemahkan mata uang kawasan.
Indonesia, Filipina, dan India bahkan telah meningkatkan langkah stabilisasi nilai tukar mata uang masing-masing.
Pelaku pasar kini juga menyoroti keputusan suku bunga Bank Sentral Korea Selatan yang dijadwalkan pada 28 Mei mendatang.
Berdasarkan survei Reuters, mayoritas analis memperkirakan Bank of Korea akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali hingga akhir 2026 akibat tekanan inflasi dari konflik Iran.
Baca Juga: Pyongyang Lepas Rudal Balistik, Ketegangan Semenanjung Korea Memanas
Di sisi lain, indeks KOSPI Korea Selatan justru sempat menyentuh rekor tertinggi setelah pasar kembali dibuka usai libur panjang.
Kenaikan dipimpin saham sektor chip, di mana Samsung Electronics melonjak 3,3% dan SK Hynix melesat 7,5% ke level tertinggi sepanjang masa.
Kondisi tersebut sempat mendorong indeks MSCI emerging Asia naik 1,4% ke rekor tertinggi baru sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatan dan diperdagangkan naik sekitar 0,7% pada sesi sore.
Di Sri Lanka, bank sentral secara mengejutkan menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin. Kebijakan tersebut mendorong penguatan rupee hingga 0,7%, dengan mata uang tersebut telah menguat sekitar 6% dalam tiga sesi terakhir.
Sementara itu di Asia Tenggara, rupiah Indonesia menyentuh rekor terendah baru di level Rp 17.790 per dolar AS akibat kekhawatiran arus keluar modal, tata kelola, serta kebijakan pengendalian ekspor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHGS) juga turun lebih dari 1%.
Baca Juga: China-Pakistan Perkuat Koridor Ekonomi dan Kembangkan Pelabuhan Gwadar
Baht Thailand melemah 0,4% ke kisaran 32,6 per dolar AS, meskipun bursa saham negara tersebut naik 0,4% didorong data ekspor yang kuat dan prospek permintaan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di Taiwan, booming AI terus mendorong penguatan pasar saham. Bursa Taiwan kini menjadi pasar saham terbesar keenam di dunia dan telah menarik arus dana asing sekitar US$ 25 miliar sepanjang tahun ini.












