kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,67   6,06   0.79%
  • EMAS888.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.17%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.12%

Pasca ada seruan dari ulama besar, Perdana Menteri Irak mengundurkan diri


Jumat, 29 November 2019 / 22:27 WIB
Pasca ada seruan dari ulama besar, Perdana Menteri Irak mengundurkan diri
ILUSTRASI. Sebuah tuk-tuk mengusir gas air mata yang ditembakkan pasukan keamanan Irak selama aksi protes di Baghdad, 26 Oktober 2019.

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - BAGHDAD. Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (29/11), setelah ulama Muslim Syiah menyerukan kepada anggota parlemen untuk mempertimbangkan kembali dukungan mereka terhadap pemerintah.

"Menanggapi seruan ini, dan untuk memfasilitasinya secepat mungkin, saya akan mengajukan kepada parlemen permintaan (untuk menerima) pengunduran diri saya dari kepemimpinan pemerintah saat ini," kata Abdul Mahdi dalam pernyataan tertulis yang dia tandatangani seperti dikutip Reuters.

Tapi, pernyataan itu tidak menyebutkan, kapan Abdul Mahdi akan mengundurkan diri. Yang terang, Parlemen Irak akan mengadakan pertemuan darurat pada Ahad (1/12) untuk membahas pengunduran diri Abdul Mahdi.

Baca Juga: Irak membara: Polisi tembak pengunjuk rasa, jumlah korban tewas lampaui 100 orang

Ayatullah Agung Ali al-Sistani sebelumnya mendesak parlemen Irak untuk mempertimbangkan menarik dukungannya bagi Pemerintahan Abdul Mahdi untuk membendung kekerasan yang meningkat.

"Pemerintah tampaknya tidak mampu menangani peristiwa dua bulan terakhir. Parlemen harus mempertimbangkan kembali pilihannya dan melakukan apa yang menjadi kepentingan Irak," kata Sistani dalam khotbah yang disiarkan televisi.

Sistani juga mendesak pasukan pemerintah untuk berhenti membunuh pemprotes. Dan, "Para pemrotes tidak boleh membiarkan demonstrasi damai diubah menjadi serangan terhadap properti atau orang," tegas dia.

Kerusuhan itu adalah krisis terbesar Irak selama bertahun-tahun. Ini mengadu para pengunjuk rasa dari jantung Syiah di Baghdad dan selatan terhadap elit penguasa yang didominasi Syiah yang dipandang sebagai pion Iran.

Baca Juga: Kerusuhan pecah dalam aksi anti-pemerintah di seantero Irak, 44 orang tewas

Kerusuhan anti-kemapanan yang mematikan berlangsung di Irak selama berminggu-minggu. Hari ini, pasukan keamanan Irak menembak mati setidaknya tiga demonstran di Kota Nassiriya.

Pasukan Irak sudah menewaskan hampir 400 demosntran yang kebanyakan pemuda tidak bersenjata sejak protes anti-pemerintah pecah pada 1 Oktober lalu. Lebih dari selusin anggota pasukan keamanan juga tewas dalam bentrokan.

Pembakaran Konsulat Jenderal Iran di Kota Suci Najaf pada Rabu (27/11) meningkatkan kekerasan dan mendapat tanggapan brutal dari pasukan keamanan yang menembak lebih dari 60 orang di seluruh negeri pada Kamis (28/11).



TERBARU

[X]
×