Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BERLIN. Jumlah pengangguran di Jerman mengalami sedikit penurunan pada Februari, namun tetap berada di atas tiga juta orang. Kondisi ini mencerminkan tekanan berkepanjangan akibat stagnasi ekonomi yang telah berlangsung selama beberapa tahun di ekonomi terbesar Eropa tersebut.
Berdasarkan data kantor tenaga kerja yang dirilis Jumat (27/2/2026), jumlah pengangguran tercatat mencapai 3,07 juta orang. Angka ini sedikit turun dibanding bulan sebelumnya, tetapi masih lebih tinggi 81.000 orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara musiman, jumlah pengangguran justru naik tipis sebesar 1.000 orang menjadi 2,977 juta pada Februari, dari 2,976 juta pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini lebih rendah dari perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan peningkatan sebesar 2.000 orang. Sementara itu, tingkat pengangguran musiman tetap stabil di angka 6,3%.
Baca Juga: Jerman Kembali Jadi Mesin Ekonomi Eropa, Ini Pendorong Utamanya
Kepala kantor tenaga kerja, Andrea Nahles, menyatakan bahwa pasar tenaga kerja masih kesulitan mendapatkan momentum pemulihan.
"Bahkan di akhir masa jeda musim dingin, pasar tenaga kerja masih kesulitan mendapatkan momentum." ujar Nahles dalam pernyataan resminya.
Data ini menjadi tantangan bagi pemerintahan Kanselir Friedrich Merz, yang berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi setelah dua tahun mengalami kontraksi. Pemerintah juga akan menghadapi sejumlah pemilihan tingkat negara bagian sepanjang tahun ini, dimulai bulan depan.
Merz berjanji mengangkat ekonomi Jerman melalui peningkatan belanja infrastruktur dan pertahanan secara signifikan. Namun, dampak dari kebijakan tersebut dinilai belum terlihat secara nyata dalam jangka pendek.
Dalam analisis yang dirilis oleh ING THINK, perlambatan pasar tenaga kerja dinilai sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan.
"...Dengan ekonomi yang secara efektif stagnan selama lebih dari lima tahun dan industri menghadapi tantangan struktural yang berat, memburuknya pasar tenaga kerja tidak dapat dihindari." tulis laporan tersebut.
Baca Juga: Jerman Percaya Beban Tarif Bakal Lebih Ringan Setelah MA Batalkan Tarif Trump
Laporan itu juga menegaskan bahwa data terbaru memberikan sinyal campuran dan belum menunjukkan titik balik pemulihan.
"Secara keseluruhan, laporan pasar tenaga kerja hari ini memberikan sinyal yang beragam, namun jelas belum menunjukkan tanda-tanda titik balik. Sebaliknya, kondisi yang memburuk secara bertahap tampaknya akan terus berlanjut."
Di sisi lain, indikator ekonomi lainnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Inflasi di sejumlah negara bagian Jerman turun di bawah 2% pada Februari, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan harga di kawasan euro.
Upah riil tercatat terus pulih, naik 1,9% pada 2025 dan 2,9% pada 2024. Meski demikian, tingkatnya masih belum kembali ke level 2019. Hal ini disebabkan oleh lonjakan inflasi pascapandemi serta dampak konflik sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang menggerus daya beli masyarakat.













