Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BERLIN. Jumlah pengangguran di Jerman menembus angka tiga juta orang pada Agustus 2025, tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Data dari Badan Tenaga Kerja Jerman menunjukkan total 3,02 juta orang tercatat menganggur secara non-musiman, meningkat 46.000 orang dibanding bulan sebelumnya.
Kepala Badan Tenaga Kerja, Andrea Nahles, menyatakan kondisi pasar tenaga kerja masih dipengaruhi pelemahan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.
Jerman memang tengah berjuang menghadapi kelesuan ekonomi yang berkepanjangan, ditambah dampak tarif impor Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Satu Dekade NMAX di Indonesia, Pelopor Inovasi Ciptakan Trend Setter di Pasar Motor
Situasi ini berpotensi membuat Jerman mencatatkan pertumbuhan ekonomi nol selama tiga tahun berturut-turut—suatu kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara itu, tingkat pengangguran yang disesuaikan secara musiman tetap stabil di angka 6,3%, sesuai dengan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters. Namun, permintaan tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda melemah. Pada Agustus, terdapat 631.000 lowongan pekerjaan, turun 68.000 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Menteri Tenaga Kerja Baerbel Bas menegaskan ketidakpastian ekonomi global dan perang agresi Rusia terhadap Ukraina masih menekan perekonomian Jerman. “Tekanan siklus ekonomi masih meninggalkan jejak pada pasar tenaga kerja dan membutuhkan langkah penyeimbang,” ujarnya.
Pemerintah Jerman telah menyiapkan stimulus besar, termasuk dana khusus sebesar 500 miliar euro (setara US$ 585 miliar) untuk infrastruktur setelah melonggarkan aturan fiskal.
Baca Juga: 10 Negara dengan Pertumbuhan PDB per Kapita Terbesar Satu Dekade Terakhir
Namun, ekonom dan asosiasi bisnis menilai dampak nyata dari belanja tersebut baru akan terasa dalam beberapa tahun, sementara masalah struktural mendalam tetap perlu diatasi.
“Jumlah pengangguran tiga juta adalah bukti kegagalan reformasi dalam beberapa tahun terakhir. Jerman membutuhkan ‘musim gugur reformasi’ yang nyata,” kata Presiden Asosiasi Pengusaha (BDA), Rainer Dulger.
Kondisi pasar tenaga kerja juga memicu kekhawatiran di kalangan rumah tangga. Presiden Ifo Institute, Clemens Fuest, mengatakan banyak keluarga cenderung meningkatkan tabungan karena khawatir terhadap masa depan, sehingga mengurangi belanja.
Data terpisah menunjukkan penjualan ritel Jerman pada Juli turun 1,5% dibanding bulan sebelumnya, jauh di bawah perkiraan penurunan 0,4% menurut jajak pendapat Reuters. Pelemahan konsumsi ini memperburuk prospek pertumbuhan pada kuartal ketiga.
“Harapan bahwa konsumen domestik akan menutup lemahnya permintaan ekspor akibat tarif AS ternyata pupus pada Juli,” ujar Cyrus de la Rubia, Kepala Ekonom Hamburg Commercial Bank.
Baca Juga: Harga Bitcoin Hari Ini Jatuh ke Bawah US$ 110.000, Pertama Kali sejak Maret 2025
Badan Statistik Jerman melaporkan harga impor pada Juli turun 1,4% secara tahunan, lebih besar dari perkiraan analis sebesar 1,2%. Penurunan harga impor biasanya baru tercermin dalam data inflasi dengan jeda waktu tertentu.
Meski begitu, data awal menunjukkan inflasi di empat negara bagian terbesar Jerman meningkat pada Agustus. Hal ini mengindikasikan inflasi nasional bulan ini bisa naik ke 2,0% dari 1,8% pada Juli, sejalan dengan perkiraan analis.