kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.884.000   16.000   0,56%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Paus Leo Mendadak Lebih Vokal: Kecam Keras Elite Penguras Kekayaan Afrika


Minggu, 19 April 2026 / 03:39 WIB
Paus Leo Mendadak Lebih Vokal: Kecam Keras Elite Penguras Kekayaan Afrika
ILUSTRASI. Paus Leo mengecam keras eksploitasi sumber daya di Afrika, menyebutnya penyebab penderitaan. (dok/Vatikan News)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Paus Leo mengecam keras eksploitasi sumber daya alam di Afrika pada Sabtu, dengan mengkritik tajam “para despot dan tiran” yang menjanjikan kemakmuran tetapi tidak menepati janji mereka, sehingga menimbulkan penderitaan dan kematian.

Dalam pidato di Angola yang kaya minyak, sebagai pemberhentian ketiga dalam tur Afrika ke empat negara, Leo menyerukan warga Angola untuk membangun masyarakat yang bebas dari “perbudakan yang dipaksakan oleh elite yang bergelimang kekayaan namun hanya menghadirkan kebahagiaan palsu.”

Reuters melaporkan, Leo menunjukkan gaya berbicara yang lebih tegas selama tur pekan ini, di tengah serangan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam penerbangan dari Kamerun ke Angola, Leo mencoba meredakan ketegangan, dengan mengatakan kepada wartawan bahwa pernyataannya soal “tiran” sebelumnya dalam perjalanan tersebut tidak ditujukan kepada Trump, serta bahwa tidak ada kepentingan bagi paus untuk berdebat dengannya.

Setibanya di ibu kota Angola, Luanda, Leo menyesalkan bahwa “kepentingan-kepentingan kuat mengklaim” sumber daya alam bekas koloni Portugis tersebut, yang tampaknya merujuk pada perusahaan asing yang diuntungkan dari sektor minyak dan berlian Angola, serta sektor mineral kritis yang baru berkembang.

“Terlalu sering orang telah melihat, dan terus melihat, tanah kalian ... untuk mengambil,” kata paus dalam pernyataan yang disampaikan kepada Presiden Angola João Lourenço dan para pemimpin politik lainnya.

“Berapa banyak penderitaan, berapa banyak kematian, berapa banyak bencana sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh logika ekstraktivisme ini!” kata Leo.

Baca Juga: Tentara Prancis Tewas: Siapa Pelaku Penembakan di Lebanon Selatan?

Leo Lebih Vokal di Afrika

Leo, yang berasal dari Chicago, relatif menjaga profil rendah sebagai paus selama 10 bulan pertamanya. Namun dalam beberapa pekan terakhir, ia menjadi lebih vokal dalam berbagai isu.

Ia melontarkan kecaman keras terhadap perang dan ketimpangan selama tur Afrika selama 10 hari ini, yang menjadi salah satu perjalanan paling rumit yang pernah diatur untuk seorang paus, dengan kunjungan ke 11 kota dan daerah di empat negara, menempuh hampir 18.000 km dalam 18 penerbangan.

Meski menjadi salah satu negara produsen minyak utama di Afrika sub-Sahara, penduduk Angola yang berjumlah 36,6 juta jiwa masih menghadapi kemiskinan ekstrem. Lebih dari 30% penduduk hidup dengan kurang dari US$2,15 per hari, menurut Bank Dunia.

Lebih dari separuh penduduk Angola mengidentifikasi diri sebagai penganut Katolik.

Leo menyerukan warga Angola untuk “memutus siklus kepentingan ini, yang mereduksi realitas, bahkan kehidupan itu sendiri, menjadi sekadar komoditas.”

Ia juga mendesak para pemimpin politik Angola agar fokus membantu seluruh rakyat, bukan hanya kepentingan korporasi.

“Sejarah pada akhirnya akan membenarkan kalian, meski dalam waktu dekat sebagian pihak mungkin akan menentang kalian,” katanya.

Tonton: Trump Klaim Deal Iran Makin Dekat, AS Siap Merebut Material Bibit Nuklir!

200.000 Orang Diprediksi Hadiri Misa di Kamerun

Sebelumnya pada Sabtu, sebelum terbang ke Angola, Leo memimpin misa perpisahan di ibu kota Kamerun, Yaounde, dan mengimbau peserta agar tidak kehilangan harapan meskipun negara Afrika Tengah itu menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik berkepanjangan yang telah menewaskan ribuan orang.

“Dalam saat-saat ketika kita tampak tenggelam, dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan yang merugikan, ketika semuanya terlihat suram ... Yesus selalu bersama kita, lebih kuat dari kekuatan jahat mana pun,” kata paus kepada kerumunan yang diperkirakan Vatikan mencapai 200.000 orang. Jumlah ini menjadikannya acara terbesar dalam tur tersebut sejauh ini.

“Dalam setiap badai, Dia datang kepada kita dan mengulang: ‘Aku di sini bersamamu: jangan takut’,” kata Leo.

Kerumunan yang menyambut kunjungan paus di Kamerun tampak antusias, termasuk sekitar 120.000 orang yang menghadiri misa pada Jumat di Douala. Mereka memadati jalan-jalan sepanjang rute perjalanan paus dan mengenakan kain berwarna-warni bergambar wajah Leo.




TERBARU

[X]
×