Pemerintah Ukraina Kecam Rusia atas Penahanan Tokoh Muslim Krimea

Rabu, 07 September 2022 | 21:17 WIB   Reporter: Noverius Laoli
Pemerintah Ukraina Kecam Rusia atas Penahanan Tokoh Muslim Krimea

Wakil Ketua Dewan Majelis Tatar Krimea Nariman Dzhelyalov.


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah Ukraina mengecam penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang dan penahanan secara sepihak terhadap tokoh Muslim yang merupakan Wakil Ketua Dewan Majelis Tatar Krimea Nariman Dzhelyalov.

Pada 4 September 2021 Dzhelyalov dan empat warga Krimea lainnya ditahan oleh pemerintah pendudukan Rusia atas tuduhan keterkaitan dengan kerusakan pipa gas di desa Perevalnoye, di jalan raya dari Simferopol menuju Yalta.

Kantor Kementerian Luar Negeri Ukraina menilai penahanan Nariman Dzhelyal dan dakwaan, yang diajukan terhadapnya, sebagai balas dendam Rusia atas partisipasinya dalam KTT Pelantikan Platform Krimea Internasional pada 23 Agustus 2021, serta upaya lain untuk mematahkan semangat perlawanan terhadap pendudukan. di Semenanjung.

Penjajah Rusia telah mengumumkan bahwa pada 21 September apa yang disebut "putusan" dalam kasus Nariman dan saudara-saudara Akhtemov mengenakan masing-masing dari mereka menghadapi hukuman penjara 15 tahun.

Baca Juga: Junta Myanmar: Putin Pemimpin Dunia karena Kendalikan dan Atur Stabilitas Dunia

“Kami mengutuk tindakan seperti itu dari Federasi Rusia dan mengingatkan bahwa di bawah Konvensi Jenewa Rusia sebagai kekuatan pendudukan bertanggung jawab untuk menyediakan kondisi kehidupan yang sesuai di wilayah itu, di mana ia telah membentuk kontrol yang efektif,” tegas Kemlu Ukraina seperti dikutip dari mfa.gov.ua, Rabu (7/9).

Nariman Dzhelyal tidak dapat berpartisipasi dalam KTT ke-2 Platform Krimea, tetapi para peserta mendesak Rusia untuk segera membebaskannya. Seruan ini juga diabadikan dalam Pernyataan Bersama yang disetujui oleh KTT pada 23 Agustus 2022.

“Kami menyerukan kepada Rusia untuk segera membebaskan Nariman Dzhelyal dan semua warga Ukraina lainnya yang ditahan secara ilegal di Krimea yang diduduki sementara serta di wilayahnya sendiri!” tuntut para peserta.

Mereka juga mengimbau mitra internasional untuk meningkatkan tekanan politik dan diplomatik, serta sanksi pada kepemimpinan Federasi Rusia untuk pembebasan warga negara Ukraina yang tidak bersalah.

Baca Juga: Sri Mulyani Tantang 100 Ekonom Proyeksi Harga Minyak Tahun Depan

Untuk kasus ini Ukraina dan negara-negara mitra akan melanjutkan perjuangan bersama untuk kebebasan mereka, termasuk dalam kerangka Platform Krimea Internasional.

Penangkapan sewenang-sewenang disertasi persekusi telah menimpa para pemimpin Muslim Krimea sejak Rusia menjajah Semenanjung Krimea. Pada 10 Februari 2022, sekelompok tentara Rusia menggrebek tokoh Muslim Krimea, Leila Ibragimova di Melitopol di tenggara Ukraina.

Leila Ibragimova dituding mengetahui tentang Azad, sebuah organisasi Tatar Krimea lokal, serta nama dan alamat para aktivis dan pemimpin opini di daerahnya. Meski dibebaskan, Ibragimova mengalami trauma atas perlakuan tersebut.

Baca Juga: Kompromi Indonesia di Perundingan Perbatasan ZEE dengan Vietnam Bisa Rugikan Nelayan

Selama delapan tahun terakhir kehadiran Rusia di Krimea, rumah para aktivis telah digeledah, hampir semua media independen Tatar Krimea ditutup dan jurnalis lokal dipaksa untuk pergi atau mengubah fokus mereka dari politik ke hiburan. Ada sensor penuh dari media lokal.

Politik Russifikasi juga telah berlangsung dengan kekuatan penuh. Sementara di atas kertas Krimea memiliki tiga bahasa resmi, yaitu Rusia, Tatar Krimea dan Ukraina, para aktivis dan pakar lokal mengatakan bahwa sekolah-sekolah dilarang mengajar dalam Tatar Krimea dan Ukraina.

Editor: Noverius Laoli

Terbaru