Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah tren work-life balance yang kian diagungkan, pengusaha properti asal Amerika Serikat (AS) Ryan Serhant justru mengambil jalan berlawanan.
Bintang Netflix sekaligus pendiri firma real estat Serhant itu memulai hari kerjanya sejak pukul 04.30 pagi dan mengaku hampir tidak mengenal konsep keseimbangan kerja dan hidup.
Serhant mengatakan, kegagalan banyak orang mengejar mimpi bukan karena kurang peluang atau kemampuan, melainkan karena tidak jujur pada diri sendiri.
“Yang paling mudah dibohongi itu diri kita sendiri,” ujarnya seperti dikutip dari Forbes, Selasa (3/2/2025).
Baca Juga: KKR Dekati Akuisisi Perusahaan Pusat Data Singapura, Transaksi Capai US$ 10 Miliar
Menurut dia, banyak orang mengaku punya target besar, tetapi sebenarnya hanya ingin santai, tidak melakukan apa pun, atau berharap keberuntungan instan seperti menang lotre.
Filosofi itu tercermin dari rutinitas hariannya yang ekstrem. Setiap pagi, Serhant menghabiskan satu jam pertama untuk membalas email, lalu berolahraga selama 90 menit.
Setelah itu, rapat dan pekerjaan klien bisa berjalan hingga larut malam, bahkan mendekati pukul 23.00. Ia mengakui hidupnya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja.
“Saya memang hidup untuk bekerja,” katanya singkat.
Di saat banyak pekerja kini memprioritaskan keseimbangan hidup, pandangan Serhant terdengar kontras. Survei Randstad Workmonitor 2025 menunjukkan work-life balance menjadi faktor terpenting bagi talenta global, bahkan mengalahkan gaji.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan! Anak Warren Buffett Baru Tahu Ayahnya Miliarder Umur 20 Tahun
Namun bagi Serhant, perdebatan itu terlalu disederhanakan. Tanpa tujuan yang jelas, menurutnya, keseimbangan justru bisa menjadi alasan untuk berhenti berjuang.
Untuk menjaga fokus, Serhant memperlakukan waktu layaknya uang. Ia membuat sistem “audit waktu” dengan asumsi satu menit setara satu dolar. Dalam sehari, ia memiliki “modal” US$ 1.440 atau 1.440 menit. Setelah dikurangi tidur dan makan, tersisa sekitar 1.000 menit yang harus diinvestasikan secara sadar.
“Kalau dimarahi atasan lima menit, itu cuma rugi lima dolar. Masa lima dolar merusak sisa hari?” katanya.
Pendekatan itu mendorongnya menetapkan target agresif. Pada 2026, Serhant menargetkan perusahaannya menjadi broker properti berbasis AI dan memperluas bisnis ke lebih banyak negara bagian di AS.
Baginya, tujuan adalah kompas utama. “Hari akan tetap melelahkan, Anda bisa sakit dan menangis. Tapi setidaknya tahu sedang melangkah ke mana,” ujarnya.
Strategi disiplin ekstrem ini terbukti membawa hasil. Tahun lalu, firma Serhant—dengan hampir 1.500 agen dan 200 karyawan penuh Waktu mencatatkan transaksi penjualan lebih dari US$ 6 miliar.
Pandangan Serhant bukanlah suara tunggal. Sejumlah tokoh bisnis dunia juga meragukan realitas work-life balance bagi mereka yang ingin unggul. Pendiri LinkedIn Reid Hoffman menilai wirausaha harus total.
Baca Juga: Kekayaan Miliarder Pecah Rekor, Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah
“Kalau pendiri bicara soal hidup seimbang, mereka tidak berkomitmen untuk menang,” katanya.
Jeff Bezos pun menyebut keseimbangan sebagai istilah yang keliru. Ia lebih memilih “harmoni”, di mana kepuasan kerja dan kehidupan pribadi saling menguatkan.
Bahkan Barack Obama mengakui, keunggulan di bidang apa pun menuntut fase hidup yang tidak seimbang.
Pesannya tegas: sukses besar jarang lahir dari kompromi setengah-setengah. Bagi Serhant dan para tokoh itu, kerja keras, bahkan ekstrem, bukan pengorbanan, melainkan harga yang harus dibayar untuk mimpi besar.













