kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.934   -78,00   -0,43%
  • IDX 6.044   157,52   2,68%
  • KOMPAS100 803   27,79   3,58%
  • LQ45 606   18,82   3,21%
  • ISSI 207   6,38   3,17%
  • IDX30 344   10,01   2,99%
  • IDXHIDIV20 425   10,62   2,56%
  • IDX80 91   3,06   3,49%
  • IDXV30 114   3,78   3,43%
  • IDXQ30 111   2,85   2,64%

Penyelidik PBB Mulai Kumpulkan Bukti Penggunaan Senjata Kimia oleh ISIL di Irak


Kamis, 08 Juni 2023 / 15:55 WIB
ILUSTRASI. Polisi anti huru hara Irak berusaha membubarkan massa selama protes orang yang mencari pekerjaan di dekat pintu masuk parlemen Irak di Baghdad, Irak, 7 Juni 2022. REUTERS/Ahmed Saad


Sumber: AP News | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Penyelidik PBB mulai mengumpulkan bukti terkait pengembangan dan penggunaan senjata kimia dan biologi oleh ekstremis Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) di Irak pada tahun 2014.

Christian Ritscher, salah satu penyelidik yang bertugas,mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa orang-orang yang selamat dari serangan kimia Maret 2016 di kota Taza Khurmatu masih sangat merasakan dampaknya.

Taza Khurmatu merupakan kota Syiah Turkmenistan yang berada di Kirkuk, timur laut Irak.

Baca Juga: Kali Pertama, India Impor Lebih Banyak Minyak Rusia daripada dari Arab Saudi & Irak

"ISIL mempersenjatai beberapa bahan kimia dan menyebarkannya sebagai roket dan mortir kimia, serta alat peledak rakitan, di sekitar Taza Khurmatu yang mengenai lingkungan perumahan dan lahan pertanian," kata Ritscher, dikutip AP News.

Menurut penyelidik PBB, serangan terhadap Taza Khurmatu diyakini sebagai penggunaan senjata kimia pertama oleh ISIL.

"Lebih dari 6.000 penduduk dirawat karena luka-luka dan dua anak meninggal dalam beberapa hari setelah terpapar, sementara banyak yang selamat terus menderita efek kronis dan berkelanjutan," ungkap Ritscher.

Pejuang Negara Islam merebut kota-kota Irak dan mendeklarasikan kekhalifahan, yang banyak ditentang, di sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak pada tahun 2014.

Baca Juga: Militer AS Berhasil Membunuh Pemimpin Senior ISIS di Suriah

Kelompok itu secara resmi dinyatakan kalah di Irak pada tahun 2017 setelah pertempuran selama tiga tahun yang menewaskan puluhan ribu orang. Meskipun demikian, sel-sel kelompok itu masih terus berkembang dan melancarkan aksi hingga saat ini.

Laporan Tim Investigasi PBB untuk Akuntabilitas Da'esh/ISIL (UNITAD) pada Mei 2021 juga menyebutkan bahwa kelompok Negara Islam telah menguji senjata biologi dan kimia kepada tahanan, bahkan hingga menyebabkan kematian.

"Tidak ada kekurangan bukti tentang kejahatan ISIL di Irak, karena ISIL adalah birokrasi berskala besar yang mendokumentasikan dan memelihara sistem administrasi seperti negara," pungkas Ritscher.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×