kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Perang dagang memukul AS, Trump: China akan lebih menderita


Kamis, 05 September 2019 / 08:57 WIB
Perang dagang memukul AS, Trump: China akan lebih menderita
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump

Sumber: New York Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa (3/9) lalu bahwa manufaktur China akan "hancur" jika negara itu tidak menyetujui persyaratan perdagangan yang dibuat Amerika Serikat. Melansir New York Times, pernyataan ini diungkapkan Trump setelah data terbaru menunjukkan perang dagang berdampak ke pantai Amerika dan memukul pabrik-pabrik yang ingin dilindungi oleh presiden.

Beberapa hari setelah tarif baru diberlakukan baik di AS maupun China, indeks aktivitas manufaktur Amerika yang tengah menjadi perhatian pasar, mencatatkan penurunan menjadi 49,1 dari sebelumnya 51,2. Ini menandakan, manufaktur AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak 2016. 

Baca Juga: Investasi AS di Malaysia melonjak drastis. Efek perang dagang?

Tanggapan perusahaan-perusahaan atas data tersebut adalah kontraksi dipicu oleh menurunnya pesanan ekspor sebagai dampak dari perang dagang, sekaligus upaya memindahkan produksi dari China untuk menghindari tarif. 

New York Times menulis, sektor manufaktur sepertinya masih akan menemui tantangan lanjutan karena dua negara ekonomi terbesar di dunia terus melakukan aksi balas pada perang dagang. Pada hari Minggu, Trump menetapkan tarif baru sebesar 15% terhadap barang-barang konsumen China, termasuk pakaian, mesin pemotong rumput, mesin jahit, makanan dan perhiasan.

Baca Juga: Ramalan-ramalan tentang kemungkinan resesi global akan terjadi di 2020

Beijing membalas dengan menaikkan tarif produk-produk Amerika senilai US$ 75 miliar. Selain itu, China juga mengajukan keluhan kepada Organisasi Perdagangan Dunia atas tarif baru Trump.

Dampaknya, pasar memerah di tengah berita ekonomi yang lemah dan kekhawatiran tentang perang dagang. Indeks S&P 500, misalnya, turun sekitar 0,9%, dengan pelemahan terbesar dialami sektor industri dan energi.




TERBARU

Close [X]
×