Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Eskalasi terbaru dalam perang Iran kembali menyoroti besarnya korban sipil setelah Iran melaporkan 18 orang tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) pada Selasa (1/9) malam, termasuk empat orang yang tewas dalam sebuah pesta pernikahan.
Melansir Reuters, Menteri Kesehatan Iran mengatakan, serangan AS di sejumlah wilayah Iran pada Selasa malam menewaskan 18 orang dan melukai 108 orang.
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan empat orang tewas dan 67 lainnya terluka dalam sebuah upacara pernikahan di dekat pesisir Selat Hormuz.
Baca Juga: Pasar Asia Rebound Kamis (3/9), Investor Menanti Sinyal The Fed dari Data NFP
Kembalinya operasi militer juga memicu kekhawatiran di berbagai negara di kawasan tersebut. Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap apa yang disebutnya sebagai aset-aset AS di Bahrain, Yordania, Kuwait dan Irak.
Militer Kuwait pada Kamis (3/9) melaporkan adanya serangan rudal dan drone tambahan. Sistem pertahanan udara Kuwait disebut berhasil mencegat serangan tersebut.
Pertempuran sebelumnya relatif mereda sejak pertukaran serangan pada Juli. Namun, upaya perundingan damai tidak mengalami kemajuan.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan kembali meningkatkan kekuatan militer, meski perang tersebut tidak populer di dalam negeri dan telah mendorong kenaikan harga bensin.
Sejumlah penasihat utama Trump disebut mendorong agar perang tidak semakin meluas sebelum pemilihan umum paruh waktu AS pada November mendatang. Langkah tersebut ditujukan untuk membendung potensi kerugian elektoral Partai Republik.
Empat sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan, pejabat Gedung Putih akan mempertimbangkan peningkatan aksi militer setelah pemungutan suara pada 3 November.
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan sikap menentang meskipun telah mengalami kerugian besar, baik dari sisi militer maupun ekonomi.
Baca Juga: KOSPI Rebound 1,38% Kamis (3/9), Saham Chip Korea Selatan Ikuti Penguatan Wall Street
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan, sangat prihatin atas laporan korban sipil, termasuk serangan yang dilaporkan mengenai sebuah pesta pernikahan di Iran.
Juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan Sekjen PBB menyerukan penghentian segera seluruh aksi militer.
“Sekretaris Jenderal mengutuk semua serangan terhadap warga sipil. Ia mengingatkan bahwa semua pihak harus menghormati kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional, termasuk prinsip pembedaan, proporsionalitas dan kehati-hatian,” kata Dujarric.
Korban sipil terus bertambah
Laporan terbaru tersebut menambah jumlah korban tewas di Iran. Berdasarkan data Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebanyak 3.636 orang telah tercatat tewas di Iran hingga 7 April, termasuk 1.701 warga sipil.
Di sisi lain, AS melaporkan 18 personel militernya tewas dan lebih dari 750 lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga: Nikkei Jepang Bergerak Fluktuatif Kamis (3/9), Saham Semikonduktor Tertekan Broadcom
Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, membantah bahwa militer AS sengaja menargetkan warga sipil.
“Kami mengetahui laporan yang berasal dari media pemerintah Iran. Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC,” ujar Hawkins melalui surat elektronik.
Bulan Sabit Merah Iran juga merilis video yang memperlihatkan puing-puing berserakan di sekitar sebuah bangunan dengan lubang besar di bagian atap.
Foto-foto yang dirilis juga menunjukkan sejumlah orang, termasuk mereka yang mengenakan rompi Bulan Sabit Merah, berada di bangunan yang rusak.
Reuters memverifikasi lokasi kejadian menggunakan citra satelit. Hasilnya menunjukkan menara utilitas yang roboh berada sekitar 136 meter dari bangunan yang rusak.
Insiden pesta pernikahan tersebut kembali mengingatkan pada ledakan di sebuah sekolah di Minab yang menewaskan 160 orang di sebuah sekolah khusus perempuan pada hari pertama perang.
Pentagon hingga kini belum mengeluarkan hasil penyelidikan resmi terkait serangan di Minab. Jika terbukti demikian, insiden tersebut akan menjadi salah satu kejadian dengan korban sipil terbesar yang melibatkan militer AS dalam beberapa dekade.
Baca Juga: Nikkei Jepang Bergerak Fluktuatif Kamis (3/9), Saham Semikonduktor Tertekan Broadcom
Dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan insiden itu kemungkinan terjadi akibat penggunaan data penargetan yang sudah usang oleh militer AS.
Sejumlah anggota Partai Demokrat di Kongres AS telah mendesak pemerintahan untuk mempublikasikan hasil penyelidikan. Namun, laporan tersebut belum diserahkan kepada anggota parlemen.
Pendukung perang Iran di AS juga menyoroti korban sipil akibat tindakan pemerintah Iran dalam menangani aksi demonstrasi jalanan yang terjadi pada Desember dan Januari, sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
HRANA memperkirakan jumlah korban tewas dalam penanganan demonstrasi tersebut mencapai lebih dari 7.000 orang. Sementara kelompok oposisi Iran di pengasingan mengklaim jumlah korban jauh lebih tinggi.
Trump sebelumnya menyebut pemberian insentif kepada warga Iran untuk menggulingkan pemerintah sebagai salah satu alasan perang.
Selain itu, AS juga menyatakan ingin menghentikan program nuklir Iran serta mengakhiri dukungannya terhadap kelompok militan di luar negeri seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi.
Baca Juga: Aktivitas Jasa China Menguat pada Agustus, Permintaan Domestik Jadi Penopang
Selat Hormuz kembali terancam
Sebagai respons terhadap serangan AS, Iran juga mengancam kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Iran.
Ancaman tersebut telah memangkas lalu lintas kapal di salah satu jalur energi terpenting dunia tersebut.
Sebelum perang, sekitar 20% pasokan minyak dunia diketahui melintasi Selat Hormuz.
Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak global dan meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara.














