Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Berbeda dengan kalender Gregorian yang berbasis Matahari, kalender Islam sepenuhnya didasarkan pada siklus Bulan.
Setiap Bulan dimulai ketika Bulan sabit baru terlihat setelah Matahari tenggelam.
Karena Bulan lunar berlangsung selama 29 atau 30 hari, hari raya Islam bergeser lebih awal setiap tahun dalam kalender Gregorian.
Malam ketika Bulan terlihat dikenal dengan Chand Raat, waktu ketika keluarga berkumpul, pasar tetap buka hingga larut malam, dan persiapan untuk perayaan Idul Fitri dimulai.
Di seluruh Arab Saudi dan negara muslim lainnya, persiapan untuk Idul Fitri berbeda-beda sesuai dengan tradisinya.
Namun, pada umumnya, muslim akan membeli pakaian baru, manisan, dan hadiah.
Sementara masjid-masjid bersiap untuk melakukan shalat id yang dilaksanakan pada pagi hari di hari pertama bulan Syawal.
Momen Idul Fitri juga menandai berakhirnya bulan Ramadhan dan menjadi salah satu perayaan terpenting bagi umat Islam.
Pada hari itu, seluruh umat Islam akan mengawali hari dengan shalat berjamaah di masjid.
Tonton: Israel Resmi Serbu Lebanon! IDF Mulai Operasi Darat Lawan Hizbullah
Kemudian, dilanjutkan dengan pertemuan keluarga, makan bersama, dan melakukan amal kebajikan yang dikenal dengan zakat.
Zakat bertujuan untuk memastikan bahwa mereka yang kurang mampu tetap bisa ikut merayakan Hari Raya tersebut.
Saat ini, umat Muslim di seluruh Arab Saudi dan sekitarnya sekitarnya sedang menunggu Bulan sabit tipis muncul di langit malam.
Kemunculan Bulan tersebut akan menandai berakhirnya Ramadhan dan dimulainya 1 Syawal.
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/17/193000665/kapan-idul-fitri-di-arab-saudi-2026-ini-perkiraan-para-astronom?page=all#page1













