kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

WHO Deklarasikan Wabah Ebola di Kongo-Uganda sebagai Darurat Global


Senin, 18 Mei 2026 / 06:50 WIB
WHO Deklarasikan Wabah Ebola di Kongo-Uganda sebagai Darurat Global
ILUSTRASI. Wabah Ebola di Kongo dan Uganda kini Darurat Internasional. 80 kematian diduga terkait, ancaman global kian nyata. (dok/dok)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (public health emergency of international concern/PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setelah terdapat 80 kematian yang diduga terkait.

Melansir Reuters, WHO menyatakan wabah yang disebabkan oleh virus Bundibugyo tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai keadaan darurat pandemi, namun negara-negara yang berbatasan darat dengan DRC berada dalam risiko tinggi terhadap penyebaran lebih lanjut.

Dalam pernyataan pada Minggu, badan kesehatan PBB tersebut mengatakan bahwa hingga Sabtu telah dilaporkan 80 kematian yang dicurigai, delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, dan 246 kasus suspek di provinsi Ituri, DRC, yang tersebar di sedikitnya tiga zona kesehatan, termasuk Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.

Satu kasus juga dikonfirmasi di kota Goma di bagian timur Kongo, menurut pernyataan kelompok pemberontak M23.

Laporan STAT News menyebut sejumlah warga Amerika di DRC diyakini telah terpapar kasus suspek di negara tersebut, dengan beberapa paparan dinilai berisiko tinggi, termasuk satu orang yang kemungkinan telah menunjukkan gejala. Reuters belum dapat segera memverifikasi laporan tersebut.

Pejabat dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan pada Minggu bahwa lembaga tersebut telah mengaktifkan pusat tanggap darurat untuk wabah ini dan berencana mengirim lebih banyak personel ke kantor mereka di DRC dan Uganda. Satish Pillai, manajer tanggap darurat Ebola CDC, menolak menjelaskan apakah ada warga Amerika yang terinfeksi, namun menegaskan bahwa risiko terhadap Amerika Serikat masih rendah.

Baca Juga: Rusia Klaim Hancurkan 3.000 Lebih Drone Ukraina, Serangan Terbesar Terjadi 17 Mei

WHO: Penyebaran lintas negara sudah terjadi

Kementerian Kesehatan DRC pada Jumat menyebut 80 orang telah meninggal dalam wabah baru di provinsi timur tersebut.

WHO mengatakan wabah ini, yang merupakan wabah Ebola ke-17 di negara tersebut (tempat Ebola pertama kali diidentifikasi pada 1976), kemungkinan sebenarnya jauh lebih besar mengingat tingginya tingkat hasil positif pada sampel awal serta meningkatnya jumlah kasus suspek yang dilaporkan.

WHO menyebut wabah ini “luar biasa” karena tidak ada obat terapi maupun vaksin yang disetujui khusus untuk virus Bundibugyo, berbeda dengan strain Ebola-Zaire. Hampir semua wabah Ebola sebelumnya di DRC disebabkan oleh strain Zaire.

WHO juga menilai wabah DRC-Uganda menimbulkan risiko kesehatan masyarakat bagi negara lain, dengan beberapa kasus penyebaran internasional sudah terdokumentasi. WHO meminta negara-negara mengaktifkan mekanisme manajemen bencana dan kedaruratan nasional serta melakukan skrining lintas perbatasan, termasuk di jalan-jalan utama di dalam negeri.

Di ibu kota Uganda, Kampala, dua kasus terkonfirmasi laboratorium yang tampaknya tidak terkait, termasuk satu kematian, dilaporkan pada Jumat dan Sabtu. Kedua kasus tersebut berasal dari orang yang bepergian dari DRC, kata WHO.

WHO juga menyatakan bahwa satu kasus terkonfirmasi yang sebelumnya dilaporkan di Kinshasa, ibu kota DRC, ternyata negatif setelah dilakukan pengujian ulang.

WHO menegaskan orang yang menjadi kontak atau kasus penyakit virus Bundibugyo tidak boleh melakukan perjalanan internasional, kecuali untuk evakuasi medis.

WHO menyarankan agar kasus terkonfirmasi segera diisolasi dan kontak dipantau setiap hari, dengan pembatasan perjalanan nasional serta larangan perjalanan internasional hingga 21 hari setelah paparan.

Namun, WHO juga mendesak negara-negara agar tidak menutup perbatasan atau membatasi perjalanan dan perdagangan karena ketakutan, karena hal itu dapat memicu pergerakan orang dan barang melalui jalur perbatasan informal yang tidak terpantau.

Tonton: Blok Tuna Natuna Bangkit Lagi! Rusia Gaspol Investasi Migas RI, Cadangan Gas Raksasa Jadi Rebutan

WHO menyebut hutan tropis lebat di DRC merupakan reservoir alami virus Ebola.

Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention, mengatakan dalam pernyataan bahwa ia telah meminta panduan teknis dan rekomendasi terkait perlunya menyatakan wabah ini sebagai darurat kesehatan yang mengancam keamanan benua Afrika.

Virus ini, yang sering kali berujung fatal dan menyebabkan demam, nyeri tubuh, muntah, serta diare, menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, material yang terkontaminasi, atau orang yang meninggal akibat penyakit tersebut, menurut Africa CDC.

Tabel 1: Ringkasan Data Kasus Ebola di DRC (Ituri)

Indikator Data WHO (hingga Sabtu)
Kematian suspek 80 orang
Kasus terkonfirmasi lab 8 kasus
Kasus suspek 246 kasus
Provinsi terdampak Ituri
Zona kesehatan terdampak Bunia, Rwampara, Mongbwalu

Tabel 2: Perkembangan Penyebaran Ebola Bundibugyo

Negara/Wilayah Status Kasus Catatan
DRC (Ituri) Wabah utama Pusat laporan kasus dan kematian
DRC (Goma) 1 kasus terkonfirmasi Disebut oleh M23
Uganda (Kampala) 2 kasus terkonfirmasi Termasuk 1 kematian, pelaku perjalanan dari DRC
DRC (Kinshasa) Negatif setelah uji ulang Kasus sebelumnya dibatalkan
 




TERBARU

[X]
×