kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.125   38,00   0,21%
  • IDX 6.038   113,48   1,92%
  • KOMPAS100 788   17,25   2,24%
  • LQ45 602   13,12   2,23%
  • ISSI 207   3,32   1,63%
  • IDX30 341   7,10   2,13%
  • IDXHIDIV20 423   9,63   2,33%
  • IDX80 90   2,01   2,29%
  • IDXV30 114   2,10   1,87%
  • IDXQ30 109   1,94   1,81%

Pertumbuhan PDB Tiongkok Diperkirakan Melambat, Pasar Menanti Stimulus Baru


Senin, 13 Juli 2026 / 15:38 WIB
Pertumbuhan PDB Tiongkok Diperkirakan Melambat, Pasar Menanti Stimulus Baru
ILUSTRASI. Pertumbuhan ekonomi China melambat drastis di Q2 2026. Analis perkirakan Beijing siapkan stimulus besar. (REUTERS/Jianan Yu)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat pada kuartal II-2026 setelah mencatat awal tahun yang cukup solid. Lemahnya permintaan domestik diperkirakan mengimbangi dorongan dari ekspor yang tetap tangguh di tengah gejolak harga minyak global, sehingga memunculkan ekspektasi pasar terhadap stimulus kebijakan baru.

Pemerintah China saat ini menghadapi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan yang semakin dalam. Di satu sisi, produksi industri tetap kuat berkat meningkatnya ekspor yang didorong perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Namun, di sisi lain, konsumsi dan investasi swasta terus melemah akibat krisis berkepanjangan di sektor properti serta volatilitas harga minyak dunia.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 54 ekonom, produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan tumbuh 4,5% secara tahunan pada periode April–Juni 2026. Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 5,0% pada kuartal pertama tahun ini.

Proyeksi tersebut juga lebih rendah dibandingkan perkiraan pertumbuhan sebesar 4,7% dalam survei Reuters pada April lalu, sekaligus berada di batas bawah target pertumbuhan ekonomi tahunan pemerintah China yang berada di kisaran 4,5%–5%.

Baca Juga: Harga Minyak Kembali Meroket 3%: Konflik AS-Iran Ancam Pasokan Global

Analis Goldman Sachs menilai pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu kini semakin tidak merata.

"Pertumbuhan ekonomi menjadi semakin timpang. Ekspor masih menopang aktivitas ekonomi secara keseluruhan, tetapi permintaan domestik melemah secara signifikan," tulis analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan riset.

Mereka menambahkan, "Selain itu, dorongan dari ekspor belum mampu diterjemahkan menjadi pasar tenaga kerja yang lebih kuat maupun peningkatan keuntungan yang berarti, sehingga manfaat dari permintaan eksternal terhadap pertumbuhan domestik masih terbatas."

Data ekspor China yang akan dirilis pada Selasa (14/7) diperkirakan masih menunjukkan pertumbuhan yang solid, meski sedikit melambat pada Juni. Kinerja tersebut ditopang oleh percepatan pengiriman barang ke Amerika Serikat menjelang kemungkinan penerapan tarif baru, meningkatnya permintaan terkait industri AI, serta strategi perusahaan yang bersaing melalui harga untuk menarik konsumen yang semakin sensitif terhadap biaya.

Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada pertemuan Politbiro China yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli. Pertemuan tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai kemungkinan stimulus baru yang dapat menentukan arah kebijakan ekonomi hingga akhir tahun.

Meski demikian, para analis memperkirakan Beijing tidak akan mengambil langkah agresif selama perlambatan ekonomi tidak semakin tajam. Ketahanan sektor ekspor dan fokus pemerintah untuk mengurangi kelebihan kapasitas produksi demi menekan deflasi menjadi pertimbangan utama.

Baca Juga: Harga Emas Anjlok 1%, Dipicu Lonjakan Harga Minyak Imbas Kekhawatiran di Selat Hormuz

Berdasarkan hasil survei Reuters, pertumbuhan ekonomi China diproyeksikan naik tipis menjadi 4,6% pada kuartal III sebelum kembali melambat menjadi 4,5% pada kuartal IV 2026.

Secara keseluruhan, ekonomi China diperkirakan tumbuh 4,6% sepanjang 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,0% pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut diperkirakan kembali melandai menjadi 4,4% pada 2027.

Secara kuartalan, ekonomi China diperkirakan tumbuh 0,9% pada kuartal II-2026, melambat dibandingkan ekspansi 1,3% pada kuartal pertama.

Pemerintah China dijadwalkan merilis data resmi PDB kuartal II beserta data penjualan ritel, produksi industri, dan investasi Juni pada 15 Juli mendatang.

Stimulus Fiskal Diperkirakan Menjadi Andalan

Analis memperkirakan pemerintah China akan lebih mengandalkan kebijakan fiskal untuk meredam perlambatan ekonomi lebih lanjut. Sementara itu, ruang gerak bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dinilai semakin terbatas meskipun harga minyak dunia mulai turun.

Pemerintah diperkirakan akan mempercepat belanja fiskal setelah perlambatan pada kuartal kedua, yang terjadi setelah dukungan besar-besaran digelontorkan pada awal tahun. Beijing telah menetapkan defisit anggaran sekitar 4% dari PDB pada 2026 dan menyiapkan penerbitan obligasi dalam jumlah besar guna menopang pertumbuhan ekonomi.

Dalam catatannya, Capital Economics memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan membaik pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga: Sam Neill, Bintang Jurassic Park Pemeran Dr. Alan Grant, Meninggal Dunia

"Pertumbuhan ekonomi China seharusnya meningkat pada paruh kedua tahun ini seiring meningkatnya dukungan fiskal. Namun, kelebihan kapasitas domestik akan tetap mengakar sehingga ekonomi China masih bergantung pada ekspor sebagai mesin pertumbuhan," tulis Capital Economics.

Survei Reuters juga menunjukkan bahwa para ekonom memperkirakan bank sentral China akan mempertahankan suku bunga kebijakan utamanya, yakni suku bunga reverse repo tujuh hari, hingga akhir 2026.

Selain itu, rasio cadangan wajib minimum perbankan diperkirakan tetap bertahan pada kuartal III sebelum berpotensi dipangkas sebesar 20 basis poin pada kuartal IV.

Bank sentral China telah mempertahankan suku bunga acuan dan rasio cadangan wajib minimum sejak Mei 2025. Otoritas moneter lebih memilih memanfaatkan operasi likuiditas jangka pendek untuk menjaga kondisi pendanaan tetap mendukung, sembari melakukan reformasi kerangka kebijakan moneter dan memperkuat transmisi kebijakan.

Sementara itu, para analis memperkirakan inflasi konsumen China hanya mencapai 1,2% sepanjang tahun ini, lebih rendah dibandingkan target pemerintah sekitar 2%. Inflasi diperkirakan bertahan di level yang sama pada 2027.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×