Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Perdana Menteri China Li Qiang menyerukan perlunya memahami kondisi ekonomi secara "komprehensif dan objektif" serta memperkuat kebijakan penyesuaian kontra-siklus (counter-cyclical adjustment) di tengah tanda-tanda melambatnya momentum pertumbuhan ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan Li pada Senin (13/7/2026), menjelang rilis data produk domestik bruto (PDB) China kuartal II-2026 yang dijadwalkan pada Rabu (15/7), demikian dilaporkan media pemerintah CCTV.
Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Beragam, Ringgit Melemah dan Won Korea Selatan Menguat
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 4,5% pada kuartal II, dari 5% pada kuartal I.
Jika terealisasi, angka tersebut berada di batas bawah target pertumbuhan ekonomi pemerintah tahun ini yang dipatok 4,5% hingga 5%.
"Dalam melihat kondisi ekonomi saat ini, penting untuk bersikap komprehensif dan objektif, yaitu dengan mengakui berbagai pencapaian yang telah diraih sekaligus tetap menyadari berbagai persoalan yang masih dihadapi," ujar Li dalam pertemuan dengan para pakar dan pelaku usaha.
Li menegaskan bahwa kinerja ekonomi pada paruh kedua tahun ini akan sangat menentukan pencapaian target pertumbuhan tahunan.
Karena itu, ia meminta pemerintah tetap konsisten menjalankan strategi pembangunan berkualitas tinggi.
Baca Juga: Yield Treasury AS Capai Puncak 17 Bulan, Investor Bersiap Hadapi Data Inflasi
Dorong Kebijakan Kontra-Siklus
Li juga meminta pemerintah meningkatkan kebijakan penyesuaian kontra-siklus untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, pemerintah perlu memaksimalkan efektivitas kebijakan yang sudah ada sekaligus menyiapkan langkah-langkah tambahan sejak dini guna memperkuat pemulihan ekonomi.
"China harus meningkatkan penyesuaian kontra-siklus, memanfaatkan secara penuh dan efektif kebijakan yang telah diterapkan, serta mempelajari dan menyiapkan langkah-langkah tambahan lebih awal untuk memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi," kata Li.
Pelaku pasar kini menantikan pertemuan Politbiro Partai Komunis China yang diperkirakan digelar pada akhir Juli.
Pertemuan tersebut dipandang penting untuk memberikan sinyal mengenai kemungkinan stimulus baru yang akan menjadi arah kebijakan ekonomi pada sisa tahun ini.
Baca Juga: AS Lanjutkan Serangan ke Iran, Dua Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz
Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan pemerintah belum akan mengumumkan stimulus besar-besaran kecuali pertumbuhan ekonomi melambat lebih tajam dari perkiraan.
Selain itu, Li juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasar tenaga kerja serta mendorong potensi permintaan domestik sebagai bagian dari upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini.














