Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID. Produsen mainan asal China Pop Mart memperluas jaringan rantai pasok globalnya dengan menambah fasilitas manufaktur di Meksiko, Kamboja, dan Indonesia.
Langkah ini dilakukan untuk mengimbangi lonjakan permintaan global terhadap produk-produknya.
Pop Mart, yang dikenal luas lewat boneka ikonik bergigi khas bernama Labubu, tidak memiliki pabrik sendiri.
Baca Juga: Presiden Korsel Lee Jae Myung Berswafoto dengan Xi Jinping Menggunakan Ponsel Xiaomi
Perusahaan ini mengandalkan mitra manufaktur lokal di berbagai negara.
Manajemen menyebut jaringan produksi berbasis mitra tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas akses global terhadap produk baru, meski tanpa merinci kapasitas tambahan yang disiapkan.
“Ini merupakan langkah strategis untuk memperluas dan memperkuat rantai pasok kami, guna meningkatkan ketahanan, efisiensi, serta kualitas layanan kepada pelanggan,” kata Pop Mart dalam pernyataan resmi pada Senin (6/1).
Sebelumnya, basis produksi Pop Mart hanya berlokasi di China dan Vietnam.
Ekspansi terbaru ini menyusul kesuksesan besar Labubu sepanjang 2025, yang mendorong permintaan koleksi blind box Pop Mart di berbagai pasar, mulai dari China dan Jepang hingga Amerika Serikat dan Asia Tenggara.
Baca Juga: Chelsea Percayakan Kursi Pelatih ke Liam Rosenior hingga 2032
Pop Mart juga tengah agresif memperluas bisnisnya di Amerika Serikat. Perusahaan menargetkan penambahan puluhan gerai baru tahun ini, di luar sekitar 60 toko yang telah beroperasi.
Pop Mart kini dipandang sebagai salah satu contoh langka merek konsumen asal China yang berhasil menembus pasar global.
Pada Agustus lalu, Pop Mart mengungkapkan bahwa perusahaan tengah meningkatkan kapasitas produksi, dengan output mainan plush mencapai sekitar 30 juta unit per bulan, melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan tahun 2024.
Namun demikian, saham Pop Mart yang diperdagangkan di Bursa Hong Kong ditutup melemah di level HK$199,50 pada Selasa (6/1).
Posisi ini turun sekitar 40% dari puncak harga pada Agustus lalu, seiring kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan tren popularitas Labubu.













