Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Meski harga emas menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, antusiasme pembeli di China justru belum surut. Toko-toko emas di Shanghai dan Hong Kong dipadati pelanggan pekan ini, dengan banyak di antaranya yakin harga emas masih akan terus naik.
“Masih cukup banyak orang yang membeli emas, karena kesadaran terhadap emas adalah tren jangka panjang dan arahnya tetap naik,” kata Zhao Jinhao, penjual emas di sebuah pusat perhiasan di Shanghai, Selasa.
Dia menambahkan, “Harganya naik dari sedikit di atas 20 yuan pada 1980-an menjadi lebih dari 1.000 yuan sekarang, dan sepanjang waktu itu trennya terus menanjak.”
Data Reuters menunjukkan, harga emas global melampaui US$ 5.100 per ounce pada Senin, setelah melonjak 62% sepanjang 2025. Kenaikan tajam ini didorong oleh pembelian besar-besaran bank sentral dunia yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar AS, serta lonjakan permintaan dari investor yang mencari aset lindung nilai di tengah gejolak global pada tahun pertama masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump.
Analis Societe Generale memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 6.000 per ounce hingga akhir tahun. Bahkan, mereka menyebut proyeksi tersebut tergolong konservatif karena harga berpotensi naik lebih tinggi lagi.
Warga Shanghai berusia 68 tahun, Wang Qiuqin, mengaku lonjakan harga yang “gila” justru mendorongnya datang ke toko emas untuk berbelanja.
Baca Juga: Jam Kiamat Semakin Maju: Ini Alasan Dunia Kini Makin Dekat Kiamat
“Kalau tren ini berlanjut, emas kemungkinan besar masih akan naik. Saya masih bisa menerima harga sekarang secara mental, jadi saya memutuskan membeli,” ujarnya.
Di Hong Kong, Simon Littmann, Executive Manager Swiss Investors Corporation Limited, perusahaan perdagangan logam mulia seperti emas dan perak, mengatakan Januari tahun ini menjadi periode tersibuk sepanjang hampir 20 tahun kariernya.
“Tahun lalu mungkin tahun tersibuk kedua kami, dan tahun ini tampaknya akan sangat ramai. Tapi kami menghadapi masalah pasokan,” katanya.
Menurut Littmann, pasokan emas batangan kecil mengalami keterlambatan akibat permintaan yang sangat tinggi, sementara kilang-kilang di seluruh dunia berlomba meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar ritel.
Meski minat investasi tetap kuat, bank sentral China tercatat membeli emas setiap bulan sepanjang tahun lalu, harga tinggi tetap memberi dampak. Permintaan emas grosir di China turun 11% pada 2025, tertekan oleh lonjakan harga dan reformasi yang menaikkan pajak, meskipun minat terhadap emas batangan dan koin untuk investasi justru meningkat.
Baca Juga: Trump: AS Akan Cari Jalan Tengah dengan Korea Selatan Usai Ancaman Tarif 25%













