kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45916,25   -4,93   -0.53%
  • EMAS960.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.05%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Putin: Era AS masa lalu, China dan Jerman tengah menuju status negara superpower


Sabtu, 24 Oktober 2020 / 07:40 WIB
Putin: Era AS masa lalu, China dan Jerman tengah menuju status negara superpower
ILUSTRASI. Menurut Presiden Rusia Vladimir Putin, China dan Jerman sekarang menuju status negara superpower (adidaya). Kremlin/Handout via Reuters


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - MOSCOW. Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (22/10/2020) mengatakan, era ketika Amerika Serikat dan Rusia menjadi negara paling penting di dunia sudah menjadi masa lalu. Menurutnya,  China dan Jerman sekarang menuju status negara superpower (adidaya).

Melansir Reuters, Putin mengatakan bahwa saat ini peran Amerika Serikat telah berkurang, seperti halnya peran Inggris dan Prancis. Sebaliknya, peran Beijing dan Berlin -dalam hal bobot politik dan ekonomi- sedang menuju status negara adidaya.

"Jika Washington tidak siap untuk membahas masalah global dengan Moskow, Rusia siap untuk berdiskusi dengan negara lain," kata Putin, yang berbicara melalui tautan video.

Dia mengatakan Washington tidak bisa lagi mengklaim eksepsionalisme dan mempertanyakan mengapa mereka menginginkannya. Informasi saja, eksepsionalisme adalah pandangan bahwa sebuah negara, masyarakat, lembaga, gerakan, atau era bersifat "eksepsional" (tidak biasa atau hebat).

Baca Juga: Putin: Persetan dengan sanksi atas Rusia, kami akan mengatasinya!

Reuters memberitakan, menjelang pemilihan presiden AS pada 3 November, Putin mengatakan dia berharap pemerintahan baru akan siap untuk berdialog tentang keamanan dan pengendalian senjata nuklir.

Seperti yang diketahui, Washington pada pekan lalu menolak proposal Rusia untuk perpanjangan satu tahun tanpa syarat dari perjanjian terakhir yang membatasi penyebaran senjata nuklir strategis AS dan Rusia, seraya menyebut proposal itu "bukan permulaan."

Baca Juga: Rusia deteksi lebih dari 80 mutasi virus corona




TERBARU

[X]
×