Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Peritel barang mewah Saks Global dilaporkan tengah bersiap mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat (AS), paling cepat pada Minggu (12/1/2026).
Informasi tersebut dilaporkan Bloomberg News pada Jumat (9/1/2026), mengutip sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Pemilik toko ikonik Saks Fifth Avenue di New York itu disebut akan mengajukan kebangkrutan tanpa kesepakatan restrukturisasi utang yang final.
Meski demikian, perusahaan menargetkan dapat merampungkan kesepakatan restrukturisasi dalam beberapa pekan ke depan.
Baca Juga: Imbal Hasil US Treasury Naik, Pertumbuhan Lapangan Kerja AS Melambat
Menurut laporan Bloomberg, Saks Global juga sedang dalam pembicaraan lanjutan dengan para kreditur terkait paket pembiayaan debtor-in-possession (DIP) senilai US$1,25 miliar.
Pembiayaan ini bertujuan menjaga operasional perusahaan tetap berjalan selama proses kebangkrutan, termasuk untuk membayar kewajiban kepada para pemasok.
Reuters melaporkan bahwa Saks Global belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar terkait rencana tersebut.
Rencana pengajuan kebangkrutan ini menjadi puncak tekanan finansial yang telah berlangsung selama bertahun-tahun bagi peritel mewah yang pernah menjadi favorit kalangan selebritas dan bangsawan, seperti Gary Cooper dan Grace Kelly.
Tekanan meningkat seiring ketatnya persaingan dengan peritel daring serta strategi merek-merek mewah yang semakin memilih menjual produk melalui toko milik sendiri.
Baca Juga: Manchester City Tebus Klausul £65 Juta untuk Antoine Semenyo dari Bournemouth
Dalam upaya memperkuat skala bisnis, induk Saks Fifth Avenue, Hudson’s Bay Company, menggabungkan bisnisnya dengan rival Neiman Marcus pada 2024 untuk membentuk entitas baru bernama Saks Global.
Namun, langkah ambisius untuk membangun raksasa ritel mewah tersebut justru membebani perusahaan dengan utang besar, di tengah perlambatan penjualan barang mewah secara global.
Dalam skema pembiayaan DIP yang tengah dibahas, kreditur utama disebut akan menyediakan sekitar US$1 miliar dana baru untuk mendukung proses kebangkrutan.
Selain itu, para pemberi pinjaman berpotensi menambah US$250 juta dengan menggulirkan kembali pinjaman lama, sementara pemegang surat utang dapat menyuntikkan tambahan hingga US$500 juta setelah perusahaan keluar dari proses kebangkrutan. Negosiasi terkait skema ini masih berlangsung.













