Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) naik dalam perdagangan yang berfluktuasi pada Jumat (9/1/2026), setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat lebih dari perkiraan pada Desember, sementara tingkat pengangguran justru turun.
Data Departemen Tenaga Kerja AS mencatat penambahan 50.000 lapangan kerja sepanjang Desember. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebanyak 60.000 pekerjaan.
Di sisi lain, tingkat pengangguran turun menjadi 4,4%, lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 4,5%.
Baca Juga: Manchester City Tebus Klausul £65 Juta untuk Antoine Semenyo dari Bournemouth
Kombinasi data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari mendatang.
“Ini adalah laporan yang cukup solid, tidak menunjukkan percepatan kembali, tetapi juga tidak mengindikasikan perlambatan yang signifikan,” ujar Jonathan Cohn, Head of U.S. Rates Desk Strategy Nomura di New York.
Menurut Cohn, penurunan tingkat pengangguran dari 4,5% ke 4,4% cukup konstruktif, meskipun sebagian dipengaruhi oleh faktor teknis seperti dampak penutupan pemerintah dan pelaporan pekerja yang sempat dirumahkan.
Data ketenagakerjaan yang berada di kisaran ambang keseimbangan tersebut menghapus sisa ekspektasi pemangkasan suku bunga pada Januari.
Pasar kontrak berjangka Fed Funds kini hanya mematok peluang pemangkasan suku bunga sebesar 4,8% pada rapat The Fed 27–28 Januari, turun tajam dari 11,6% sebelum rilis data. Pemangkasan suku bunga berikutnya diperkirakan paling cepat terjadi pada April.
Baca Juga: Lapangan Kerja AS Melambat di Desember 2025, Pengangguran Turun ke 4,4%
Pada Desember lalu, The Fed memangkas suku bunga, namun memberi sinyal bahwa pelonggaran lanjutan belum akan dilakukan dalam waktu dekat, seiring menunggu kejelasan arah pasar tenaga kerja yang mulai melunak, inflasi yang masih relatif tinggi, serta prospek ekonomi yang diperkirakan menguat tahun ini.
Yield obligasi AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga, naik 3 basis poin menjadi 3,518%. Sementara itu, yield obligasi acuan tenor 10 tahun naik 0,6 basis poin ke level 4,189%.
Selisih imbal hasil antara obligasi dua tahun dan 10 tahun tercatat menyempit menjadi 67 basis poin, menandakan perataan kurva yield.
Sebelumnya, pasar obligasi sempat menguat pada Kamis (8/1) setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memerintahkan pembelian US$200 miliar surat utang berbasis kredit pemilikan rumah (mortgage-backed securities) guna menekan biaya perumahan. Otoritas Perumahan AS menyebutkan Fannie Mae dan Freddie Mac akan mengeksekusi pembelian tersebut.
Freddie Mac melaporkan suku bunga KPR tetap tenor 30 tahun berada di level 6,16%, relatif stabil dibanding pekan sebelumnya 6,15%, namun jauh lebih rendah dari 6,93% pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Trump Kucurkan Dana untuk KPR
Di sisi lain, Mahkamah Agung AS menyatakan belum akan mengeluarkan putusan terkait legalitas kebijakan tarif Trump pada Jumat, meski spekulasi sempat meningkat. Investor tetap mencermati perkembangan putusan tersebut yang diperkirakan keluar dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, ketegangan geopolitik turut menjadi perhatian pasar, menyusul penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS serta pernyataan Trump yang kembali mengungkapkan keinginannya agar Amerika Serikat menguasai Greenland.













