kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.783   -127,00   -0,71%
  • IDX 6.365   -44,28   -0,69%
  • KOMPAS100 835   -9,48   -1,12%
  • LQ45 634   -6,17   -0,96%
  • ISSI 221   -1,24   -0,56%
  • IDX30 356   -3,64   -1,01%
  • IDXHIDIV20 434   -4,17   -0,95%
  • IDX80 95   -1,11   -1,15%
  • IDXV30 120   -0,72   -0,60%
  • IDXQ30 113   -1,42   -1,25%

Rencana Trump Akhiri Perang Gaza: Hamas Diminta Lucuti Senjata, Israel Harus Mundur


Senin, 10 Agustus 2026 / 20:04 WIB
Rencana Trump Akhiri Perang Gaza: Hamas Diminta Lucuti Senjata, Israel Harus Mundur
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Rencana terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza menghadapi tantangan besar.

Titik utama perbedaan antara Israel dan Hamas terletak pada mekanisme pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Gaza.

Dalam rencana tersebut, Hamas diminta menyerahkan senjata sementara Israel secara bertahap menarik pasukannya dari Gaza.

Melansir Reuters Senin (10/8/2026), Hamas menyatakan menerima peta jalan tersebut, sedangkan Israel menolaknya dalam bentuk saat ini dan menegaskan tidak akan menarik pasukan sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Hampir 2% Lantaran Iran Meredam Harapan Pembukaan Selat Hormuz

Apa isi rencana terbaru Trump?

Trump pada 30 Juli mengatakan telah terjadi terobosan dalam pembicaraan untuk melanjutkan rencana gencatan senjata yang disusun pada 2025.

Hamas dan kelompok militan lainnya disebut telah menerima peta jalan 15 poin yang dirancang oleh "Board of Peace" bentukan Trump untuk mengakhiri konflik dan melucuti kelompok bersenjata di Gaza.

Rencana gencatan senjata 2025 memang telah mengurangi kekerasan, tetapi belum mampu menghentikan serangan Israel maupun memastikan pelucutan senjata kelompok militan.

Peta jalan terbaru tersebut dirancang untuk melanjutkan proses dengan menarik pasukan Israel dari Gaza dan membangun kembali wilayah yang hancur akibat perang selama hampir dua tahun.

Gaza nantinya akan dikelola pemerintahan teknokrat Palestina yang didukung AS.

Baca Juga: Harga Aluminium Melonjak 6 Hari Beruntun Senin (10/8), Stok Global Terus Menyusut

Pelucutan senjata jadi kunci

Berdasarkan teks peta jalan yang dipublikasikan Board of Peace, Israel dan Hamas harus segera menghentikan seluruh operasi militer di Gaza.

Penarikan pasukan Israel dikaitkan langsung dengan pelucutan seluruh kelompok bersenjata, termasuk Hamas.

Pemerintahan teknokrat yang disebut National Committee for the Administration of Gaza akan mengambil alih pemerintahan sipil.

Pemerintahan tersebut juga bertugas mengawasi proses penonaktifan dan penyimpanan senjata berat, fasilitas produksi senjata, gudang persenjataan, serta terowongan.

Rencana tersebut juga mengusulkan pembentukan International Stabilization Force (ISF) atau pasukan stabilisasi internasional.

Pasukan ini akan ditempatkan di Gaza untuk mengamankan wilayah yang ditinggalkan pasukan Israel.

ISF juga akan membantu melatih kepolisian Palestina dan mendukung distribusi bantuan kemanusiaan.

Baca Juga: Rupiah Melesat ke Level Tertinggi 7 Pekan, Saham Emerging Markets Bangkit

Situasi di Gaza masih tegang

Israel telah mengurangi serangannya di Gaza sejak Trump mengumumkan rencana tersebut.

Pejabat Israel mengatakan militernya hanya akan bertindak terhadap ancaman langsung dan tidak lagi melakukan pembunuhan yang ditargetkan.

Namun, sejak gencatan senjata Oktober 2025, serangan Israel masih terjadi hampir setiap hari. Otoritas kesehatan Gaza menyebut serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina, sebagian besar merupakan warga sipil.

Israel mengatakan, serangan dilakukan untuk menghadapi ancaman terhadap pasukannya di Gaza atau membunuh anggota Hamas yang terlibat dalam serangan 2023 yang memicu perang.

Gencatan senjata Oktober membuat Israel tetap menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza. Wilayah yang dikuasai Israel kemudian meluas hingga sekitar dua pertiga Gaza.

Di wilayah tersebut, militer Israel menghancurkan bangunan yang tersisa, membongar terowongan Hamas, dan memerintahkan warga meninggalkan kawasan tertentu.

Hampir seluruh dari sekitar dua juta penduduk Gaza kini terkonsentrasi di wilayah sempit di sepanjang pesisir, sebagian besar tinggal di tenda darurat atau bangunan yang rusak.

Baca Juga: Redam Kenaikan Harga Gula, India Pertimbangkan Pembatasan Tebu untuk Etanol

Pasukan internasional belum siap dikerahkan

Di tengah kebuntuan tersebut, Board of Peace telah menyiapkan basis di Israel, dekat perlintasan Kerem Shalom menuju Gaza.

Lokasi tersebut nantinya akan menjadi pusat logistik dan persiapan bagi pasukan ISF jika mereka akhirnya dikerahkan ke Gaza.

Namun, para diplomat memperkirakan pengerahan pasukan tersebut masih membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Sejauh ini, baru Maroko dan Uganda yang berkomitmen mengirim pasukan. Kosovo, Albania, dan Kazakhstan telah menyatakan kesiapan mengirim perencana militer serta tenaga medis.

Indonesia, yang sebelumnya menawarkan pengiriman ribuan personel untuk membantu misi medis dan rekonstruksi, menyatakan pembicaraan terkait pengerahan tersebut masih ditangguhkan.

Baca Juga: Meta Luncurkan AI Baru Muse Glimmer, Zuckerberg Tantang Dominasi China

Israel dan Hamas berbeda pandangan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (9/8) mengatakan rencana terbaru Trump belum dapat diterima dalam bentuk saat ini. Meski demikian, Israel masih bertukar gagasan dengan Washington mengenai rencana tersebut.

Netanyahu kembali menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Gaza sebelum proses pelucutan senjata Hamas selesai.

Di sisi lain, Hamas menyatakan menerima peta jalan tersebut. Namun, kelompok tersebut memprotes pernyataan Board of Peace di media sosial yang menyebut Hamas harus menyerahkan senjata ringan seperti senapan dan Israel baru akan menarik pasukannya setelah proses pelucutan senjata selesai.

Hamas menegaskan, pihaknya hanya terikat pada teks peta jalan awal, yang memberikan waktu 14 hari untuk menyusun jadwal pelucutan senjata. Tenggat tersebut masih dapat diperpanjang.

Baca Juga: UEFA, AFC dan CONCACAF Serang Infantino soal Skema Hak Komersial Piala Dunia

Nickolay Mladenov, utusan Board of Peace untuk Gaza mengatakan proses pelucutan senjata akan dilakukan secara bertahap dan berdasarkan sektor wilayah.

Menurut Mladenov, setiap wilayah Gaza yang telah diverifikasi bebas senjata, dengan persenjataan disimpan dan dibuat tidak dapat digunakan, akan diikuti penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut.

Proses tersebut pada akhirnya diharapkan membuat Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza. Namun, perbedaan tafsir mengenai urutan pelucutan senjata dan penarikan pasukan masih menjadi hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×