kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Rusia Tumpuk Pasukan, Dolar AS dan Aset Safe Haven Diburu Investor


Sabtu, 12 Februari 2022 / 06:17 WIB
Rusia Tumpuk Pasukan, Dolar AS dan Aset Safe Haven Diburu Investor
ILUSTRASI. Dolar AS menguat bersama dengan aset safe-haven, Jumat (11/2), setelah Rusia telah mengumpulkan cukup banyak pasukan di dekat Ukraina.


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Mata uang dolar AS menguat bersama dengan aset safe-haven lainnya pada Jumat (11/2), setelah Amerika Serikat (AS) menyebutkan, Rusia telah mengumpulkan cukup banyak pasukan di dekat Ukraina untuk melancarkan invasi besar-besaran.

"Serangan Rusia dapat dimulai kapan saja dan kemungkinan akan dimulai dengan serangan udara," kata penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan dalam jumpa pers yang dikutip Reuters.

Indeks dolar yang menjadi ukuran greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,258%. 

Harga minyak mentah berjangka AS juga melonjak lebih dari 5% menjadi US$ 94,66 per barel, tertinggi sejak 2014. Sementara harga emas naik lebih dari 2% ke level tertinggi hampir dua bulan.

"Kenaikan dolar disebabkan oleh komentar Sullivan, serta laporan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah memutuskan untuk menyerang Ukraina, yang kemudian dibantah oleh Gedung Putih," kata Bipan Rai, kepala strategi FX di CIBC Capital Markets di Toronto. 

Baca Juga: Bursa Wall Street Rontok Tertekan Ketegangan Rusia-Ukraina dan Bunga The Fed

Pergerakan dolar AS itu naik, bersama dengan pergerakan aset safe-haven lainnya seperti US Treasury dan yen Jepang, menunjukkan pasar tumbuh semakin khawatir tentang prospek invasi. 

"Ini jelas merupakan langkah safe-haven," katanya.

Sementara Yen Jepang menguat 0,63% versus greenback di 115,29 per dolar. Dolar Kanada melemah karena potensi serangan Rusia yang segera memicu aksi jual aset sensitif risiko.

Mata uang Rusia jatuh lebih jauh di tengah berita rencana invasi Rusia atas Ukraina. Rubel drop 2,73% versus greenback di 77,00 per dolar. 

Washington mendesak semua warga AS untuk meninggalkan Ukraina dalam waktu 48 jam.

Negara-negara lain - termasuk Inggris, Jepang, Latvia, Norwegia, dan Belanda - juga meminta warganya untuk segera meninggalkan Ukraina. 

Sementara mata euro melemah karena pasar merespons berita soal Rusia-Ukraina. Tambah lagi, dengan pernyataan Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde yang mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa menaikkan suku sekarang tidak akan menurunkan rekor inflasi zona euro tetapi hanya merugikan ekonomi.

Baca Juga: AS: Terus Tumpuk Pasukan, Serangan Rusia ke Ukraina Bisa Kapan Saja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×