kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.961   45,00   0,27%
  • IDX 7.239   -122,96   -1,67%
  • KOMPAS100 1.003   -18,27   -1,79%
  • LQ45 739   -12,39   -1,65%
  • ISSI 254   -4,87   -1,88%
  • IDX30 395   -5,39   -1,35%
  • IDXHIDIV20 492   -5,02   -1,01%
  • IDX80 113   -1,98   -1,73%
  • IDXV30 133   -1,62   -1,21%
  • IDXQ30 128   -1,25   -0,97%

Diplomasi Kim Jong Un-Xi Jinping Menguat: Ancaman Baru bagi Dominasi AS?


Jumat, 13 Maret 2026 / 08:03 WIB
Diplomasi Kim Jong Un-Xi Jinping Menguat: Ancaman Baru bagi Dominasi AS?
ILUSTRASI. Kim Jong Un bertemu Xi Jinping, hubungan membaik setelah lama dingin. (via REUTERS/Alexander Kazakov)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Hubungan antara China dan North Korea kembali menghangat setelah sempat dingin selama beberapa tahun terakhir. Ketika pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tiba di Beijing dengan kereta lapis baja untuk menghadiri parade militer pada September lalu, momen tersebut dianggap sebagai sinyal membaiknya hubungan kedua negara.

Di balik kemegahan parade tank dan jet tempur, Kim membawa tim ekonomi senior untuk membahas perdagangan dan investasi dengan pejabat China. Lima minggu kemudian, Perdana Menteri China Li Qiang melakukan kunjungan balasan ke Pyongyang. Duta besar China bahkan menyebut kedua negara sedang “menulis babak baru” dalam hubungan mereka.

China Ingin Kembali Pegang Kendali

Bagi Beijing, tujuan utamanya jelas: memperkuat kembali pengaruh tradisionalnya terhadap Korea Utara yang dalam beberapa tahun terakhir semakin dekat dengan Russia setelah invasi Rusia ke Ukraine pada 2022.

Korea Utara diketahui memasok pasukan dan persenjataan ke Moskow. Sebagai imbalannya, Pyongyang menerima pasokan bahan bakar dan makanan untuk menopang ekonominya yang tertekan akibat sanksi United Nations terkait program senjata nuklirnya.

Investigasi Reuters menemukan China kini memperdalam keterlibatan ekonominya dengan Korea Utara. Hal ini terjadi saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap melakukan kunjungan ke China dan menyatakan minat untuk menghidupkan kembali perundingan dengan Kim untuk pertama kalinya sejak 2019.

Citra satelit menunjukkan kedua negara tengah membangun infrastruktur baru di sepanjang perbatasan, termasuk pembangunan jalan dan fasilitas pelabuhan yang sebelumnya belum pernah dilaporkan.

Baca Juga: Krisis Energi di Depan Mata: AS Izinkan Pembelian Minyak Rusia

Infrastruktur Perbatasan Mulai Dibangun

Reuters menelusuri perubahan ini dengan meninjau data perdagangan, melakukan perjalanan di sepanjang sebagian dari perbatasan sepanjang 1.350 kilometer, serta mewawancarai puluhan sumber mulai dari pengusaha China hingga pekerja Korea Utara.

Di kota perbatasan Dandong, China terlihat bersiap menghadapi lonjakan aktivitas lintas batas. Citra satelit menunjukkan marka jalan baru bertuliskan jalur truk dan kendaraan penumpang di sisi China dari jembatan New Yalu River Bridge yang menghubungkan kedua negara.

Fasilitas baru juga terlihat di beberapa titik perbatasan lain seperti pelabuhan Quanhe Port serta kawasan Nanping dan Sanhe.

Di sisi Korea Utara, para ahli dari Center for Strategic and International Studies menyebut negara itu juga sedang membangun fasilitas bea cukai, imigrasi, gudang, serta bangunan pemindahan kargo.

Perdagangan China–Korea Utara Meningkat

Nilai ekspor China ke Korea Utara mencapai US$ 2,3 miliar pada tahun lalu, level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Angka ini meningkat sekitar 25% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menariknya, pada November lalu China juga menghapus seruan lama mengenai denuklirisasi Korea Utara dari dokumen kebijakan pengendalian senjatanya.

Dalam pesan kepada Presiden China Xi Jinping pada 9 Maret, Kim Jong Un menyatakan kerja sama kedua negara akan semakin erat di masa depan dalam memajukan “tujuan bersama sosialisme.”

Baca Juga: Berapa Jumlah Korban Tewas Perang Iran? Tembus Ribuan!




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×