kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.768   75,00   0,42%
  • IDX 6.434   -2,55   -0,04%
  • KOMPAS100 849   -0,45   -0,05%
  • LQ45 648   0,67   0,10%
  • ISSI 223   -0,36   -0,16%
  • IDX30 360   0,93   0,26%
  • IDXHIDIV20 450   2,34   0,52%
  • IDX80 97   -0,01   -0,01%
  • IDXV30 124   0,28   0,23%
  • IDXQ30 116   0,49   0,42%

Saham Asia Naik Tipis Kamis (17/9), Dolar AS Menguat Usai The Fed Naikkan Suku Bunga


Kamis, 17 September 2026 / 09:28 WIB
Saham Asia Naik Tipis Kamis (17/9), Dolar AS Menguat Usai The Fed Naikkan Suku Bunga
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei Jepang (REUTERS/Manami Yamada)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Saham-saham Asia bergerak menguat tipis pada Kamis (17/9/2026), setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal masih terbuka peluang kenaikan lanjutan untuk meredam inflasi.

Kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor pendek dan mengangkat dolar AS ke level tertinggi dalam tujuh pekan terhadap sejumlah mata uang utama.

Pasar kini memperkirakan, The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun ini. Bahkan, kenaikan suku bunga pada Desember telah sepenuhnya diperhitungkan dalam harga pasar.

Baca Juga: The Fed Hawkish, Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi 7 Pekan Kamis (17/9)

Penguatan dolar AS tersebut menjadi tekanan bagi pasar komoditas. Harga minyak mentah kembali melemah setelah sebelumnya terkoreksi cukup dalam.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,4%. Indeks Nikkei Jepang juga menguat 0,5%. Sementara itu, saham-saham unggulan China turun 0,4% dan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,9%.

Di pasar saham AS, kontrak berjangka Nasdaq naik 0,6%, sedangkan S&P 500 futures menguat 0,5%, setelah kedua indeks tersebut ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan sebelumnya.

The Fed masih buka peluang kenaikan

Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan terbarunya. Namun, keputusan yang diambil secara bulat tersebut dinilai cenderung hawkish.

Para pejabat The Fed mengisyaratkan masih ada satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini. Goldman Sachs bahkan memperkirakan kenaikan berikutnya dapat terjadi pada Oktober.

Baca Juga: Jumlah Miliarder Vietnam Turun Jadi 7 Orang, Ini Daftar Terbarunya

"Kami memperkirakan Oktober menjadi waktu yang paling mungkin untuk langkah berikutnya karena paling sesuai untuk melakukan kenaikan pada pertemuan berturut-turut," tulis analis Goldman Sachs dalam catatannya.

Goldman Sachs menilai, kenaikan tambahan masih mungkin terjadi, tetapi bukan menjadi skenario dasar mereka.

Sementara itu, harga di pasar berjangka menunjukkan peluang sekitar 50% bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Oktober untuk menekan inflasi.

Secara keseluruhan, pasar kini memperhitungkan tiga kali kenaikan suku bunga dalam siklus pengetatan tersebut.

Imbal hasil Treasury AS

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed turut mengubah bentuk kurva imbal hasil Treasury AS. Imbal hasil tenor pendek naik lebih tinggi, sementara tekanan terhadap tenor panjang mulai mereda.

Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun berada di 4,7145%, setelah melonjak sekitar 6 basis poin pada perdagangan sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.

Baca Juga: Bursa Australia Naik 0,4% Kamis (17/9) Pagi, Saham Bank Jadi Penopang Utama

Pergerakan tersebut turut menopang dolar AS. Indeks dolar AS terakhir berada di 100,33, setelah melonjak 0,7% pada perdagangan sebelumnya. Posisi tersebut merupakan level tertinggi dalam tujuh pekan.

Sementara itu, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di 4,9917%, masih tepat di bawah level psikologis 5%.

Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun 2 basis poin menjadi 5,3328%, menjauh dari level tertinggi 19 tahun di 5,401%.

Padhraic Garvey, Regional Head of Research Americas di ING mengatakan, kenaikan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun menunjukkan adanya penurunan moderat dalam ekspektasi inflasi.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pasar memberikan respons positif terhadap kenaikan suku bunga The Fed sebagai upaya mengendalikan inflasi.

Namun, Garvey memperkirakan imbal hasil obligasi tenor panjang masih menghadapi tekanan.

"Kami mengidentifikasi 5,25% sebagai target berikutnya untuk imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun," ujarnya.

Baca Juga: OpenAI Ungkap 6 Kasus Perilaku AI Tak Terduga, Siap Rutin Laporkan

Harga minyak tertekan, emas menguat

Penguatan dolar AS turut membebani pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent turun 0,7% menjadi US$105,05 per barel, setelah merosot 2,7% pada perdagangan sebelumnya.

Penurunan harga minyak juga dipengaruhi laporan bahwa Arab Saudi menawarkan sejumlah kargo minyak mentah melalui Oman.

Kondisi tersebut meredakan sebagian kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, harga emas menunjukkan ketahanan. Harga emas naik sekitar 1% menjadi US$4.305 per ons, setelah sebelumnya turun 0,7%.

Pergerakan emas tersebut menunjukkan bahwa meskipun dolar AS menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat, permintaan terhadap aset safe haven masih cukup kuat.

Baca Juga: Ekonomi Selandia Baru Tumbuh 0,2% di Kuartal II, Lampaui Ekspektasi


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×