Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham Robinhood merosot sekitar 10% pada perdagangan pre-market Rabu (29/4/2026), setelah kinerja kuartal I-2026 meleset dari ekspektasi akibat melemahnya aktivitas perdagangan kripto.
Penurunan ini terjadi seiring tekanan di pasar aset digital, dengan Bitcoin tercatat turun lebih dari 30% dalam enam bulan terakhir.
Sentimen risk-off yang meluas memicu aksi jual dan menekan minat investor ritel.
Baca Juga: Jelang Pertemuan Trump–Xi, Taiwan Cemas Jadi Komoditas Negosiasi AS–China
Melansir Reuters, pendapatan berbasis transaksi Robinhood hanya tumbuh 7% menjadi US$623 juta pada kuartal pertama, lebih rendah dari estimasi analis sebesar US$728,2 juta.
Pendapatan dari segmen kripto bahkan turun tajam 47% secara tahunan menjadi US$134 juta.
Analis dari Morningstar menyebut perdagangan kripto yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan utama kini justru menjadi titik tekanan bagi perusahaan pada periode Januari–Maret.
“Pelemahan di pasar kripto membuat kuartal ini menjadi cukup berat bagi Robinhood,” tulis analis dalam catatannya.
Kondisi pasar yang fluktuatif juga membuat investor ritel yang kerap disebut sebagai “mom-and-pop traders” cenderung menahan diri.
Pergerakan harga yang tidak stabil dinilai memicu kelelahan transaksi (trading fatigue) dan menurunkan kepercayaan.
Analis dari Raymond James mencatat volume perdagangan menjadi lebih tidak stabil. Sementara kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dari opsi dan kripto juga menurun.
Baca Juga: ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Asia, Dampak Perang Timur Tengah Kian Dalam
Di sisi lain, persaingan di industri kripto semakin ketat. Selain kehadiran bursa kripto baru, pemain besar seperti Charles Schwab dan E*TRADE milik Morgan Stanley juga mulai memperluas bisnisnya di sektor ini.
Analis Keefe Bruyette & Woods memperkirakan tekanan kompetisi akan terus meningkat. Sedangkan volume perdagangan di industri kripto secara umum masih melemah hingga April.
Untuk mengurangi ketergantungan pada transaksi yang sangat dipengaruhi sentimen pasar, Robinhood dalam beberapa tahun terakhir mulai memperluas model bisnisnya menjadi platform layanan keuangan yang lebih komprehensif, dengan menawarkan berbagai produk di luar perdagangan saham dan kripto.













