kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Sasar China, Unilever beli perusahaan penjernih udara dari Swedia


Selasa, 20 Maret 2018 / 13:41 WIB
ILUSTRASI. Unilever


Reporter: Agung Jatmiko | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - ROTTERDAM. Masalah polusi di China justru dilihat Unilever sebagai peluang bisnis. Perusahaan yang kini tengah fokus pada produk kebersihan dan kenyamanan, membeli bisnis penjernih udara skala rumahan, yang bertujuan untuk membantu konsumen China menembus awan beracun.

Mengutip Bloomberg, Selasa (20/3), Unilever mengakuisisi Blueair, perusahaan pembuat alat pemurni udara asal Swedia. Setelah mengorganisir kampanye cuci tangan dan membangun toilet di pedesaan Afrika, Unilever kini membidik polusi udara, yang menyumbang lebih dari 7 juta kematian prematur per tahun, menurut organisasi kesehatan dunia atau world health organization (WHO).

Penjernih udara diperkirakan Blueair bisa terjual lebih dari US$ 500. Unilever belum mengungkapkan nilai akuisisi yang dikeluarkannya, tetapi mengatakan pihaknya memperkirakan penjualan unit penjernih udara akan meningkat menjadi lebih dari 1 miliar euro tahun 2020 mendatang.

Selain China, Unilever juga akan membidik India dan Bangladesh untuk pemasaran penjernih udara ini, dengan menggabungkannya dengan bisnis pemurni air miliknya yang sudah masuk di dua negara ini, yakni Pureit.

Upaya ekspansi ke India dan Bangladesh boleh jadi berkaitan erat dengan menurunnya permintaan Blueair di China, dimana pemerintahan Xi Jinping mencanangkan reformasi kebijakan lingkungan yang ketat.

Tahun 2017 penjualan Blueair tumbuh 13% menjadi US$ 2,2 miliar. Kenaikan penjualan penjernih udara ini bisa dibilang turun jika dibandinkan dengan tahun 2012 dan 2013 yang sempat naik 50%.




TERBARU

[X]
×