Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Kremlin menyatakan kondisi pasokan bahan bakar di Kuba berada pada titik kritis.
Pemerintah Rusia menilai tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap ekonomi Kuba, termasuk upaya membatasi pasokan minyak, telah memperparah krisis di negara Karibia tersebut.
Pernyataan itu disampaikan setelah pemerintah Kuba mengumumkan langkah darurat untuk melindungi layanan esensial dan menerapkan pembatasan penggunaan bahan bakar.
Baca Juga: Trump Klaim Meksiko Akan Hentikan Pengiriman Minyak ke Kuba
Kebijakan tersebut diambil seiring memburuknya situasi ekonomi dan energi di negara yang dipimpin pemerintahan komunis itu.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia memantau perkembangan di Kuba dan terus menjalin komunikasi intensif melalui jalur diplomatik.
“Situasi di Kuba memang kritis. Kami mengetahui hal ini dan terus berkoordinasi dengan mitra Kuba,” ujarnya.
Menurut Kremlin, kebijakan AS yang dinilai mencekik ekonomi Kuba telah menimbulkan banyak kesulitan.
Rusia, kata Peskov, sedang membahas berbagai opsi untuk membantu mengatasi masalah tersebut atau setidaknya memberikan dukungan semaksimal mungkin.
Di sisi lain, Moskow tengah berupaya memperbaiki hubungannya dengan Washington di tengah upaya Presiden AS Donald Trump mendorong kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Baca Juga: Trump Ancam Tarif Negara yang Pasok Minyak ke Kuba
Namun, Kremlin menegaskan ketidakpuasannya atas perlakuan AS terhadap Kuba, yang disebut sebagai sekutu lama Rusia.
Isu kelangkaan bahan bakar juga memicu kekhawatiran terkait pasokan avtur yang berpotensi berdampak pada wisatawan Rusia di Kuba.
Menanggapi hal itu, Duta Besar Rusia untuk Kuba Viktor Coronelli menyatakan Moskow telah berulang kali memasok minyak ke Kuba dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus melakukannya.













