Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dinas Rahasia Amerika Serikat (U.S. Secret Service) tengah menyelidiki sebuah video yang disiarkan televisi pemerintah Iran dan membahas dugaan rencana pembunuhan terhadap Barron Trump, putra bungsu Presiden AS Donald Trump.
Juru bicara U.S. Secret Service Nate Herring mengatakan pihaknya telah mengetahui keberadaan video tersebut. Penyelidikan dilakukan karena isi tayangan dinilai berpotensi memuat ancaman terhadap orang yang berada di bawah perlindungan lembaga tersebut.
"Dinas Rahasia AS mengetahui video tersebut dan menyelidiki segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai ancaman terhadap orang-orang yang kami lindungi. Demi alasan keamanan operasional, kami tidak membahas masalah intelijen perlindungan," kata Herring dalam email, Selasa (25/8/2026).
Baca Juga: Pekerja China Manfaatkan Aturan Uni Eropa untuk Lawan Budaya Kerja 996
Video berdurasi sekitar tiga menit yang ditayangkan televisi pemerintah Iran itu membahas dugaan rencana untuk membunuh Barron Trump. Dalam tayangan tersebut, Barron Trump yang kini berusia 20 tahun disebut sedang dipantau.
Tayangan itu juga mengklaim adanya hadiah sebesar US$10 juta atau sekitar Rp160 miliar untuk pembunuhan Barron Trump. Namun, informasi mengenai dugaan hadiah tersebut belum dikonfirmasi secara independen.
Ketegangan AS dan Iran Meningkat
Kemunculan video tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara terus melontarkan pernyataan keras setelah perang yang dimulai AS dan Israel pada Februari lalu telah berlangsung hampir enam bulan.
Baca Juga: Bill Gates Ingin Bertemu Xi Jinping, Dorong Aturan Global untuk Hadapi Risiko AI
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menerima sejumlah peringatan dari Israel dalam setahun terakhir mengenai dugaan niat Iran untuk membunuh Donald Trump.
Peringatan tersebut, menurut sejumlah pejabat, juga diterima sebelum sebuah operasi pengelabuan rahasia yang melibatkan pesawat Air Force One di Turki.
Ancaman terhadap Trump sendiri bukan hal baru dalam ketegangan antara Washington dan Teheran. Trump bahkan pernah menggambarkan dirinya sebagai "orang nomor satu dalam daftar target pembunuhan Iran."













