Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan kampanye media sosial yang tidak biasa untuk mempromosikan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Kampanye tersebut menampilkan video bergaya gim video dan budaya pop yang menonjolkan kekuatan militer AS, namun memicu kritik karena dianggap “menggamifikasi” perang.
Salah satu video yang dirilis Gedung Putih diawali dengan adegan dari gim tembak-menembak populer Call of Duty. Video tersebut kemudian menampilkan jet tempur yang lepas landas dari kapal induk, rudal meluncur di udara, hingga target yang meledak dalam tayangan gerak lambat.
Seluruh rangkaian gambar itu diiringi musik lagu “Bonfire” dari Childish Gambino, dengan narator bersuara berat yang menyatakan, “Kami memenangkan pertempuran ini.”
Baca Juga: Dampak Perang AS–Israel vs Iran: Harga Energi Global Terancam Naik Berbulan-bulan
Dalam video tersebut juga muncul skor “kill score” seperti dalam gim, yang menampilkan nilai numerik setiap kali target dihancurkan. Video ini telah ditonton lebih dari 58 juta kali dan menjadi bagian dari kampanye media sosial pemerintahan Trump untuk mempromosikan serangan udara terhadap Iran kepada publik Amerika.
Propaganda Militer Bergaya Gim
Berbeda dengan konflik sebelumnya yang biasanya disertai paparan data dan konferensi pers resmi, kampanye kali ini lebih menyerupai konten hiburan digital. Video menampilkan pesawat siluman yang membelah awan, ledakan besar bergaya film Hollywood, serta efek visual dramatis yang diselaraskan dengan musik cepat.
Alih-alih menjelaskan alasan Amerika Serikat terlibat dalam perang, kampanye ini lebih menonjolkan bagaimana perang itu dijalankan, dengan gaya penuh percaya diri dan dramatis.
Video-video tersebut dipublikasikan oleh Gedung Putih dan United States Department of Defense di platform media sosial seperti X, TikTok, dan Instagram. Konten tersebut dipenuhi referensi budaya pop, musik berenergi tinggi, dan potongan adegan film aksi, serta banyak dibagikan oleh akun-akun pendukung Trump.
Craig Silverman, peneliti dan salah satu pendiri platform pemantau disinformasi Indicator, menilai pembuatan konten semacam itu kini jauh lebih mudah.
“Dulu butuh waktu dan pengetahuan yang cukup banyak. Sekarang seorang pengelola media sosial di Gedung Putih bisa membuat video seperti itu hanya dalam setengah jam dengan alat digital yang tersedia,” ujarnya.
Kritik: “Gamifikasi” Perang
Sejumlah pengamat mengkritik keras kampanye tersebut. Mereka menilai video yang menampilkan cuplikan tokoh populer seperti Superman serta potongan film seperti Braveheart, Top Gun, Iron Man, dan Gladiator dinilai tidak pantas karena menyamakan perang dengan hiburan.
Baca Juga: Konflik AS–Iran Ganggu Pasokan Energi, Kuwait Deklarasikan Force Majeure
Kritikus menyebut pendekatan tersebut sebagai bentuk “gamification” atau menjadikan perang seolah-olah seperti permainan, padahal konflik tersebut telah menewaskan prajurit Amerika dan warga sipil Iran.
Kampanye itu muncul di tengah kesulitan Gedung Putih menjelaskan alasan jelas di balik konflik yang dimulai pada 28 Februari melalui operasi pengeboman yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel.
Beberapa pejabat pemerintahan Trump bahkan memberikan alasan yang berbeda-beda terkait operasi militer tersebut, sehingga memicu kritik dari mantan pejabat Partai Republik dan pakar komunikasi.
James Glassman, mantan pejabat diplomasi publik pada pemerintahan Presiden George W. Bush, menilai pesan komunikasi pemerintah seharusnya difokuskan pada penjelasan kepada rakyat Iran dan publik Amerika mengenai alasan pengeboman.
“Jika ingin berkomunikasi, yang seharusnya dilakukan adalah menjelaskan kepada rakyat Iran mengapa negara mereka dibom, bukan menunjukkan bagaimana kita menghancurkan target,” ujarnya.
Konten Viral Bernuansa Meme
Beberapa video lain juga memanfaatkan meme internet. Salah satunya menampilkan animasi kadal hijau dari film animasi Elio yang mengetuk layar berulang kali, dengan setiap ketukan diikuti peluncuran rudal.
Video lain menggunakan gambar pesawat pembom B-1, pesawat siluman Northrop Grumman B-2 Spirit, serta jet tempur Lockheed Martin F-35C Lightning II yang lepas landas dari kapal induk.
Namun penyelidikan Reuters menemukan bahwa sebagian rekaman tersebut merupakan arsip lama, bukan dari konflik Iran saat ini.
Video berdurasi 38 detik bertajuk “Operation Epic Fury” itu telah ditonton lebih dari 18 juta kali di TikTok.
Baca Juga: 12 Tahun Tanpa Jawaban, Keluarga Korban MH370 Minta Pencarian Dilanjutkan
Sementara video lain berdurasi 14 detik menampilkan karakter animasi SpongeBob SquarePants yang berulang kali berkata, “Wanna see me do it again?” diselingi gambar ledakan militer. Video tersebut telah ditonton lebih dari 9 juta kali di platform X dan TikTok.
Targetkan Pemilih Muda
Kristopher Purcell, mantan staf komunikasi Gedung Putih pada masa menjelang invasi Irak tahun 2003, menilai konten tersebut kemungkinan menargetkan pemilih pria muda — kelompok demografis yang memberikan dukungan kuat kepada Trump dalam pemilu 2024.
Ia menilai pendekatan ini sangat berbeda dengan strategi komunikasi pada masa perang Irak yang dilakukan pemerintahan Bush.
“Pemerintah saat itu menghabiskan waktu berbulan-bulan menjelaskan alasan invasi Irak. Sekarang video-video ini justru dirilis setelah perang dimulai untuk membenarkannya,” katanya.
Meski demikian, sejumlah pakar menilai pemerintahan Trump terbukti sangat efektif dalam memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan politik kepada para pendukungnya.
Matthew Baum, profesor komunikasi global di Harvard Kennedy School, mengatakan tantangan bagi Trump adalah basis pendukungnya sendiri tidak sepenuhnya mendukung perang dengan Iran.
“Masalahnya, basis pendukungnya tidak sepenuhnya sejalan dengan perang ini. Biasanya basis MAGA mengikuti arah Trump, tetapi dalam isu Iran situasinya lebih rumit,” ujarnya.













