Sekjen PBB: Kepemimpinan AS adalah kunci untuk memerangi darurat iklim

Kamis, 03 Desember 2020 | 09:14 WIB Sumber: Reuters
Sekjen PBB: Kepemimpinan AS adalah kunci untuk memerangi darurat iklim

ILUSTRASI. Sekjen PBB, Antonio Gutteres

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Gutteres, pada hari Rabu (2/12) mengingatkan dunia bahwa saat ini manusia sedang menghadapi tantangan alam yang sangat berat. Secara khusus ia menyebutkan bahwa kepemimpinan AS adalah kunci keberhasilan melawan masalah lingkungan.

Dalam pidatonya di Universitas Columbia, New York, Gutteres menyatakan bahwa: "Keadaan planet ini (Bumi) sudah rusak".

Secara khusus Gutteres menyoroti gentingnya perubahan iklim dan berharap netralitas karbon global perlu dicapai dalam tiga dekade ke depan. Untuk mencapai hal tersebut, keuangan global harus diselaraskan di belakang kesepakatan global 2015 untuk memerangi perubahan iklim.

Ia juga mengungkapkan perlu adanya terobosan mengenai cara adaptasi demi melindungi dunia, terutama bagi masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

"Saya yakin bahwa tidak ada cara untuk mengatasi darurat iklim di dunia tanpa kepemimpinan AS," ungkap Gutteres, seperti dikuitp Reuters.

Baca Juga: Selandia Baru deklarasikan darurat iklim, bergabung dengan 32 negara lain

Munculnya nama AS sebagai kunci dalam mengatasi masalah iklim global bukan tanpa alasan. Gutteres mengatakan bahwa kesepakatan global untuk memerangi perubahan iklim tidak akan mungkin terjadi tanpa kepemimpinan Presiden AS saat itu Barack Obama.

Sayangnya, setelah Obama turun jabatan, AS seolah abai akan masalah perubahan iklim. Penerusnya, Donald Trump, menyebut perubahan iklim sebagai "hoax", meragukan sains, dan pada 2017 menarik AS keluar dari kesepakatan perubahan iklim global.

"Saya percaya bahwa rakyat Amerika akan memastikan bahwa negara ini akan mengambil alih kepemimpinan global yang diperlukan agar aksi iklim berhasil," ungkap Gutteres.

Bulan lalu, sebuah kelompok yang mewakili investor Eropa dan AS dengan aset kolektif US$ 30 triliun, memperingatkan bahwa AS akan berisiko tertinggal dalam perlombaan untuk menciptakan ekonomi global yang lebih bersih jika meninggalkan kesepakatan iklim global.

Harapan mulai muncul kembali setelah Gutteres dan presiden AS terpilih, Joe Biden, mengadakan pembicaraan terkait upaya memerangi perubahan iklim pada hari Senin (30/11) lalu.

Selanjutnya: PBB: Tahun ini, 2020, telah menjadi tahun yang tiada duanya

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru