CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Sektor Properti Anjlok dan Ada Omicron, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi China


Kamis, 23 Desember 2021 / 10:20 WIB
Sektor Properti Anjlok dan Ada Omicron, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi China
ILUSTRASI. Bank Dunia pangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi China tahun ini dan tahun depan karena omicron dan jatuhnya sektor properti.


Sumber: CNN | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi China tahun ini dan tahun depan, karena negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu menghadapi tantangan yang meningkat dari varian baru omicron. Ditambah lagi, penurunan parah di sektor properti.

Terbaru, Bank Dunia memprediksi produk domestik bruto (PDB) atau ekonomi China tumbuh 8% pada tahun 2021. Proyeksi ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya di bulan Oktober 2021 sebesar 8,1% dan perkiraan bulan Juni 2021 sebesar 8,5%.  

Bank Dunia juga menggunting prediksi pertumbuhan ekonomi China tahun 2022 dari 5,4% menjadi 5,1%, yang akan menandai laju pertumbuhan ekonomi paling lambat kedua untuk China sejak tahun 1990.

Tahun lalu, ekonomi China hanya tumbuh 2,2% pada tahun 2020.

"Risiko penurunan terhadap prospek ekonomi China telah meningkat," sebut Bank Dunia Rabu dalam laporan terbarunya tentang ekonomi China seperti dikutip CNN.

Baca Juga: Taipan Properti di China Telah Kehilangan Kekayaan Rp 611,8 Triliun Tahun Ini

Wabah Covid domestik yang baru, termasuk varian Omicron, dapat menyebabkan pembatasan yang lebih luas dan lebih lama, serta menyebabkan gangguan lebih lanjut pada kegiatan ekonomi.

Selain itu, penurunan parah dan berkepanjangan di sektor properti yang sangat berpengaruh mungkin memiliki gaung yang signifikan di seluruh perekonomian China. 

China adalah satu-satunya ekonomi utama yang mencatat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020, tetapi tahun ini China telah menghadapi banyak ancaman terhadap ekspansinya, termasuk pembatasan terkait pandemi, krisis energi, dan tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap perusahaan swasta.

Tindakan keras peraturan selama setahun terakhir terhadap peerusahaan teknologi, pendidikan, dan hiburan telah memukul saham. Itu juga memicu PHK besar-besaran di antara banyak perusahaan, menekan sektor pekerjaan bahkan ketika berusaha pulih dari pandemi.

Peraturan lebih lanjut tentang perusahaan properti yang dimulai tahun lalu telah membebani pengembang besar yang sudah menanggung terlalu banyak utang. Real estat - yang menyumbang hampir sepertiga dari PDB China - sekarang dalam kemerosotan yang semakin dalam, dengan pemain besar di ambang kehancuran.

Baca Juga: Walau ekonomi China melambat, mata uang yuan kinerjanya paling oke tahun ini

Meningkatnya tekanan ekonomi telah membuat Beijing mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap kebijakan. Selama pertemuan ekonomi utama awal bulan ini, Presiden China Xi Jinping dan para pemimpin tinggi lainnya menandai "stabilitas" sebagai prioritas utama mereka untuk 2022. 

Pihak berwenang sejak itu meningkatkan upaya untuk meningkatkan ekonomi. People's Bank of China pada Senin lalu memangkas suku bunga utamanya untuk pertama kalinya dalam 20 bulan, berharap untuk mengurangi biaya pinjaman untuk rumah tangga dan perusahaan dan pada gilirannya mendorong belanja konsumen dan investasi.

Pekan lalu, bank sentral juga menurunkan rasio persyaratan cadangan untuk sebagian besar bank hingga setengah poin persentase. Langkah itu diperkirakan akan mengeluarkan likuiditas sekitar 1,2 triliun yuan (US$ 188 miliar) untuk pinjaman bisnis dan rumah tangga.

Baca Juga: Masa Jabatan Ketiga Xi Jadi Pegangan Fund Manager dan Bankir saat Rancang Portofolio

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×