Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Tak hanya China, Thailand juga melarang sebagian besar ekspor bahan bakar olahan. Sementara itu, Korea Selatan membatasi ekspor pada level tahun lalu dan mempertimbangkan pengetatan lebih lanjut.
Analis Wood Mackenzie, Priti Mehta, menyebut kilang di India dan Jepang juga mulai enggan membuka tender ekspor baru. Jika kondisi ini berlanjut, perang dapat memaksa penurunan kapasitas pengolahan minyak hingga 6 juta barel per hari di Asia.
Meski demikian, tidak semua indikator menunjukkan krisis parah. Stok bahan bakar ringan di Singapura, seperti bensin dan nafta, masih 19% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Selain itu, India sebagai eksportir utama diperkirakan akan meningkatkan pasokan ke Asia untuk memanfaatkan kenaikan harga.
Analis Vortexa, Ivan Mathews, mengatakan ekspor bahan bakar dari India yang sebelumnya dikirim ke Eropa dan Amerika kemungkinan akan dialihkan ke pasar Asia. Pasokan dari kawasan Laut Merah juga diperkirakan akan mengalir lebih besar ke Asia.
Tonton: Lahan Hotel Sultan Resmi Milik Negara! Eksekusi Tetap Jalan Meski Digugat
Namun, dampak gangguan pasokan sudah terasa. Bahkan sebelum kebijakan China diberlakukan, ExxonMobil dilaporkan menyewa hingga tiga pengiriman bensin dari Pantai Teluk AS ke Australia, rute yang tidak biasa dan mahal, sebagai respons terhadap terganggunya distribusi akibat konflik.
Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar energi global masih akan berlanjut, dengan Asia sebagai kawasan yang paling merasakan dampaknya dalam waktu dekat.













