kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45670,77   -28,01   -4.01%
  • EMAS926.000 0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Sembilan sinyal resesi Amerika ini kembali menyala merah


Selasa, 03 September 2019 / 07:41 WIB
Sembilan sinyal resesi Amerika ini kembali menyala merah
ILUSTRASI. Bendera Amerika Serikat

Sumber: CNBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Saat ini mayoritas warga merika Serikat mencemaskan, perekonomian negara mereka akan jatuh ke jurang resesi. 

Melansir CNBC, sebagai salah satu indikasinya, hasil pencarian di Google seacrh menunjukkan, kecemasan akan resesi kian meningkat sejak akhir Juli lalu. Pada waktu itu, the Federal Reserve memangkas suku bunga acuan untuk kali pertama sejak terjadi krisis finansial. 

Semua data yang datang ke investor dari segala penjuru menunjukkan sinyal resesi akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan perang dagang antara AS dan China. Perlambatan ekonomi global menekan bank sentral di seluruh dunia untuk menekan suku bunga acuannya di level terendah. Di sisi lain, perang dagang antara Washington dan Beijing menjadi sentimen pemberat bisnis. 

Baca Juga: Pasar saham global dibayangi perang dagang dan krisis Argentina

Mengevaluasi indikator ini bukan perkara mudah. Banyak ekonom, money manager dan analis tidak sepakat mengenai seberapa sehat atau tidak sehat ekonomi AS sebenarnya dan apakah ekspansi yang terjadi beberapa tahun terakhir akan terus berlanjut. 

Berikut adalah sejumlah indikator resesi utama yang mengeluarkan sinyal merah:

1. Pasar obligasi

Hal yang paling banyak dibicarakan mengenai pasar obligasi adalah terjadinya kurva yield terbalik. 

Di tengah melorotnya suku bunga di pasar obligasi AS, tingkat yield untuk surat utang AS bertenor 10 tahun telah melorot di bawah yield surat utang bertenor 2 tahun. Kejadian ini berlangsung beberapa kali sejak 14 Agustus lalu. 

Dalam market yang sehat, obligasi jangka panjang memberikan suku bunga yang lebih tinggi ketimbang obligasi jangka pendek. Nah, saat obligasi jangka pendet memberikan yield tinggi, inilah yang dinamakan kurva yield terbalik. 

Baca Juga: Terancam default yang ke-9, Argentina minta tambahan waktu untuk bayar utang

Fenomena yang muncul di pasar obligasi ini memberikan sinyal resesi. CNBC mencatat, ada tujuh kali resesi yang ditandai dengan kurva yield terbalik. Menurut Credit Suisse, resesi akan terjadi rata-rata sekitar 22 bulan setelah terjadi kurva yield terbalik.

2. Produk Domestik Bruto (PDB)

Tingkat PDB AS mengalami perlambatan. Data yang dirilis Departemen Perdagangan AS menunjukkan, ekonomi Negeri Paman Sam itu hanya tumbuh 2% pada kuartal dua.

Level 2% merupakan pertumbuhan terlambat sejak kuartal IV 2018 dan turun dari pertumbuhan 3% yang berhasil dicapai pada tiga bulan pertama tahun ini. 

3. Laba perusahaan

Estimasi pertumbuhan pendapatan perusahaan mengalami penurunan yang sangat drastis tahun ini. Data FacSet menunjukkan, pada Desember lalu, analis mengestimasi, indeks S&P 500 earnings growth untuk tahun ini berada di kisaran 7,6%. Angka itu sekarang berada di posisi 2,3%.

Strategist Goldman Sachs dan Citigroup pada bulan lalu memangkas estimasi pendapatan untuk S&P 500 untuk tahun 2019 dan 2020. Alasannya, kondisi ekonomi yang memburuk, ancaman perang dagang, dan adanya potensi devaluasi mata uang. 




TERBARU

Close [X]
×