Separuh populasi Myanmar diprediksi akan terinfeksi Covid-19 dalam dua minggu

Jumat, 30 Juli 2021 | 08:58 WIB Sumber: Reuters
Separuh populasi Myanmar diprediksi akan terinfeksi Covid-19 dalam dua minggu

ILUSTRASI. Warga membawa spanduk saat mereka melakukan protes di Yangon, Myanmar dalam gambar dari video yang didapatkan dari media sosial, Senin (14/6/2021).


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Duta Besar Inggris untuk PBB memperingatkan bahwa separuh populasi Myanmar bisa saja terinfeksi Covid-19 dalam dua minggu ke depan.

Populasi Myanmar saat ini berjumlah sekitar 54 juta jiwa dan sedang menghadapi masa sulit sejak militer mengambil alih kekuasaan pada Februari lalu.

Dilansir dari Reuters, Duta Besar Inggris untuk PBB Barbara Woodward menyebut bahwa kudeta telah mengakibatkan keruntuhan total sistem perawatan kesehatan.

Ia juga prihatin terhadap banyaknya petugas kesehatan yang diserang dan ditangkap

"Virus ini menyebar melalui populasi, memang sangat cepat. Dengan beberapa perkiraan, dalam dua minggu ke depan, setengah dari populasi Myanmar dapat terinfeksi Covid," ungkap Woodward saat berbicara di diskusi informal Dewan Keamanan tentang Myanmar.

Angka infeksi Covid-19 di Myanmar telah melonjak sejak Juni, dengan 4.980 kasus dan 365 kematian dilaporkan pada Rabu (28/7).

Baca Juga: Eksportir senjata Rusia berkomitmen untuk terus memasok senjata ke militer Myanmar

Duta Besar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun, meminta komunitas internasional agar memberikan bantuan kesehatan dan kemanusiaan agar vaksinasi Covid-19 berjalan dengan lancar.

"Kami ingin meminta PBB, khususnya Dewan Keamanan, untuk segera membentuk mekanisme pemantauan yang dipimpin PBB untuk vaksinasi Covid yang efektif dan kelancaran pengiriman bantuan kemanusiaan," kata Tun.

Myanmar baru-baru ini menerima dua juta vaksin dari China. Jumlah itu diyakini hanya mampu memvaksinasi sekitar 3,2% dari populasinya.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. Sejak saat itu, kerusuhan terus terjadi dan menimbulkan banyak korban jiwa dalam beberapa bentrokan.

Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara lainnya telah menjatuhkan sanksi pada penguasa militer atas kudeta dan penindasan protes pro-demokrasi di mana ratusan orang telah tewas.

Selanjutnya: Myanmar cari bantuan internasional saat kasus COVID-19 di negara itu terus meningkat

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru