Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. European Central Bank (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya di level 2% pada Kamis (19/3/2026) dan memperingatkan bahwa perang di Iran berpotensi mengaburkan prospek pertumbuhan dan inflasi di kawasan euro.
Harga minyak dan gas melonjak sejak serangan AS dan Israel ke Iran, meningkatkan risiko kenaikan biaya energi yang dapat mendorong inflasi konsumen dan menekan aktivitas ekonomi di 21 negara Euro Zone, yang sangat bergantung pada impor bahan bakar.
"Perang di Timur Tengah akan berdampak nyata pada inflasi jangka pendek melalui kenaikan harga energi," kata ECB. Dampak jangka menengah akan tergantung pada intensitas dan durasi konflik serta bagaimana harga energi memengaruhi harga konsumen dan ekonomi.
Baca Juga: IATA: Konflik Timur Tengah Dorong Harga Tiket Pesawat Naik Tajam
ECB tetap membuka opsi kebijakan, dengan memantau perang dan dampaknya terhadap inflasi (termasuk dan tidak termasuk energi) serta pertumbuhan ekonomi. Bank sentral menegaskan posisi siap menghadapi ketidakpastian ini, karena inflasi saat ini sekitar target 2%, ekspektasi inflasi jangka panjang tetap stabil, dan ekonomi menunjukkan ketahanan.
Bank sentral AS, Kanada, Jepang, Inggris, Swedia, dan Swiss sebelumnya menyampaikan pesan serupa. Pasar keuangan kini memperkirakan inflasi zona euro bisa mendekati 4% tahun depan, baru kembali ke target 2% dalam beberapa tahun. Beberapa trader memprediksi ECB mungkin menaikkan suku bunga dua hingga tiga kali tahun ini.
Proyeksi kuartalan terbaru ECB menempatkan inflasi sebesar 2,6% pada 2026, 2% pada 2027, dan 2,1% pada 2028, sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan masing-masing 0,9%, 1,3%, dan 1,4%. Namun, ECB juga akan mempublikasikan skenario buruk terkait kenaikan harga energi yang lebih tinggi, dengan potensi efek kedua dan tak langsung yang bisa memperkuat tekanan inflasi.
Pengalaman krisis energi 2022 pasca-invasi Rusia ke Ukraina meninggalkan "bekas" pada ekspektasi konsumen, sehingga ECB cenderung lebih cepat menaikkan suku bunga jika tekanan energi bertahan lama.
Sementara itu, pasar obligasi bersiap menghadapi peningkatan pinjaman pemerintah akibat krisis Iran, termasuk rencana Jerman untuk memperbesar belanja militer dan infrastruktur, yang bisa meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan rumah tangga sebelum ECB menaikkan suku bunga.
ECB menekankan, saat ini fokusnya adalah mencegah efek kedua pada ekspektasi inflasi, terutama terkait kenaikan upah, agar tekanan inflasi tidak melebar lebih jauh.
Baca Juga: BOE Pertahankan Suku Bunga 3,75%, Waspadai Inflasi Akibat Konflik Timteng













