kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.047.000   8.000   0,26%
  • USD/IDR 16.901   -69,00   -0,41%
  • IDX 7.390   52,15   0,71%
  • KOMPAS100 1.030   9,56   0,94%
  • LQ45 756   5,89   0,79%
  • ISSI 259   2,08   0,81%
  • IDX30 401   3,19   0,80%
  • IDXHIDIV20 494   1,28   0,26%
  • IDX80 116   1,06   0,92%
  • IDXV30 134   0,93   0,70%
  • IDXQ30 129   0,74   0,58%

Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu di Perang Iran, Teheran atau Washington?


Selasa, 10 Maret 2026 / 07:49 WIB
Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu di Perang Iran, Teheran atau Washington?
ILUSTRASI. Iran bertaruh pada ketahanan, bukan militer. Mereka ingin memaksa AS mundur dengan mengguncang pasar energi global. Akankah berhasil? (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Iran tampaknya bertaruh bisa bertahan lebih lama dari Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang tengah berlangsung. Bukan dengan keunggulan militer semata, tetapi dengan mengubah perang menjadi pertarungan ketahanan yang melelahkan.

Strateginya cukup jelas: meluncurkan drone dan rudal, mengganggu jalur energi penting, serta mengguncang pasar global hingga cukup kuat untuk memaksa Washington mundur lebih dulu.

Meski mengalami guncangan akibat serangan gabungan AS–Israel dan kehilangan sejumlah tokoh penting, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) disebut masih memegang kendali penuh. Pasukan elite ini mengarahkan operasi di medan perang, menjalankan rencana darurat yang telah disiapkan sebelumnya, serta menentukan strategi dan target serangan.

IRGC juga disebut berperan penting dalam mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan awal AS–Israel.

Reuters melaporkan, pakar politik Timur Tengah dari London School of Economics, Fawaz Gerges, menilai konflik ini dipandang Iran sebagai pertarungan eksistensial.

“Bagi mereka, ini adalah perang habis-habisan. Mereka merasa kelangsungan hidup mereka dipertaruhkan,” kata Gerges.

Sementara itu, analis dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menggambarkan Iran seperti “hewan yang terluka, terpukul, tetapi justru menjadi lebih berbahaya.”

Baca Juga: Ekonomi Jepang Melejit 1,3% di Kuartal IV-2025, Ditopang Investasi Bisnis yang Kuat

Target energi kawasan Teluk

Pendekatan perang total itu terlihat dari meningkatnya serangan Iran di kawasan Teluk, yang menyasar pusat energi dari Qatar hingga Saudi Arabia. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memaksimalkan gangguan ekonomi global sekaligus meningkatkan tekanan biaya terhadap negara-negara tetangga, Eropa, dan Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada anggota Partai Republik bahwa perang akan terus berlangsung hingga Iran “benar-benar dikalahkan secara total dan tegas”. Namun ia juga memprediksi konflik tersebut akan segera berakhir.

Trump menambahkan bahwa setelah operasi militer AS selesai, Iran tidak akan memiliki kemampuan persenjataan yang dapat mengancam Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu-sekutunya untuk waktu yang lama.

Strategi perang yang sudah disiapkan

Menurut sejumlah sumber di Iran, eskalasi konflik ini sebenarnya telah diperkirakan jauh sebelum perang pecah sekitar 11 hari lalu. Para perencana militer Iran telah lama mengasumsikan bahwa konfrontasi dengan Washington dan Israel tidak dapat dihindari.

Karena itu, mereka menyiapkan strategi berlapis yang melibatkan jaringan militer IRGC serta kelompok proksi di kawasan.

Kini, dengan situasi yang dianggap tidak banyak lagi yang bisa dipertaruhkan, Iran menjalankan rencana tersebut dengan mengubah konflik menjadi perang kelelahan yang bertujuan menguras sumber daya politik dan ekonomi lawan.

Baca Juga: Kim Jong Un Kirim Surat Penting ke Xi Jinping, Apa Isinya?

Kekuatan rudal jadi kunci

Salah satu faktor penentu adalah berapa lama Iran mampu mempertahankan serangan rudalnya.

Analis dari Carnegie Middle East Center, Mohannad Hage Ali, mengatakan daya tahan kampanye rudal Iran menjadi kunci strategi tersebut.

Pejabat AS mengklaim sebagian besar persenjataan Iran telah dihancurkan. Namun sumber di kawasan menyebut Teheran kemungkinan masih memiliki lebih dari setengah persediaan rudal sebelum perang. Jika benar, Iran masih dapat meluncurkan serangan selama beberapa pekan ke depan—periode yang bisa menimbulkan tekanan ekonomi dan politik bagi Washington.

Kehidupan di dalam Iran

Di dalam negeri, konflik juga memengaruhi kehidupan sehari-hari. Pengamat di Iran mengatakan barang-barang yang biasanya tertahan lama di pelabuhan kini langsung diproses masuk. Dokumen administrasi menyusul kemudian.

Kebijakan ini disebut sebagai persiapan menuju “ekonomi perang”, untuk memastikan jalur pasokan tetap berjalan di tengah tekanan.

Sejauh ini, tidak terlihat tanda-tanda protes besar, pembelotan elite, atau perpecahan di dalam pemerintahan Iran. Seorang sumber di Teheran menggambarkan ibu kota tetap berfungsi meski sering diguncang serangan.

“Jendela bergetar siang dan malam, tetapi kehidupan tetap berjalan,” katanya. Toko dan bank masih buka, pasokan tersedia, dan sebagian besar warga belum meninggalkan kota.

Serangan tersebut justru memicu solidaritas nasional di tengah masyarakat, meski sebelumnya banyak keluhan terhadap pemerintah.

“Orang-orang tidak siap melihat Iran hancur,” kata sumber tersebut.

Tonton: Iran Minta Maaf ke Negara Tetangga saat Serangan dengan Israel Terus Berlanjut

Siapa yang akan menyerah lebih dulu?

Bagi para analis, konflik ini kini menjadi ujian ketahanan bagi kedua pihak: apakah Iran mampu terus meluncurkan rudal, dan apakah Amerika Serikat serta Israel mampu menanggung biaya ekonomi, militer, dan politik untuk menghentikannya.

Menurut Gerges, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan menyerah lebih dulu dalam perang habis-habisan ini—pemerintah AS di bawah Donald Trump atau para pemimpin Iran.

Dengan mendorong kenaikan harga energi dan menyebarkan tekanan ekonomi ke negara-negara Barat, Teheran berharap tekanan tersebut akhirnya memaksa Amerika Serikat mundur.

Sejumlah tanda awal mulai terlihat. Harga minyak melonjak, biaya gas meningkat, dan ketegangan politik di Washington ikut naik, terutama menjelang pemilu sela di AS.

Dalam situasi seperti itu, Trump dinilai mungkin mencari jalan keluar dengan mengklaim kemenangan—misalnya dengan menyoroti tewasnya pemimpin tertinggi Iran serta hancurnya fasilitas nuklir dan militer negara tersebut.

Bagi Iran, bertahan saja sudah bisa dianggap kemenangan.

Meski sebagian besar infrastruktur strategisnya mungkin hancur, kepemimpinan Iran masih dapat mengklaim keberhasilan karena mampu bertahan menghadapi salah satu kekuatan militer terbesar di dunia.

Yang muncul kemudian mungkin adalah Iran yang terluka. Namun Iran yang “berdarah” seperti itu justru bisa menjadi lebih berbahaya dan sulit diprediksi dibanding sebelum konflik ini dimulai.




TERBARU

[X]
×