Singapura Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2023 Berada di Kisaran 0,5%-2,5%

Rabu, 23 November 2022 | 13:42 WIB   Reporter: Diki Mardiansyah
Singapura Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2023 Berada di Kisaran 0,5%-2,5%

ILUSTRASI. Ekonomi Singapura diproyesi hanya 0,5%-2,5% di tahun 2023


KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Singapura memproyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 melambat. Hal tersebut terjadi karena adanya tantangan dari perlambatan ekonomi global.

Rabu (23/11), Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura mengatakan, pertumbuhan produk domestik bruto kemungkinan akan melambat dalam kisaran 0,5% sampai 2,5% di tahun depan.

Dikutip dari Bloomberg pada Rabu (23/11), proyeksi pertumbuhan ekonomi yang rendah ini lantaran kemerosotan ekspor dan prospek ekonomi global yang memburuk. Pertumbuhan ekonomi Singapura juga merosot karena negara tersebut sangat bergantung pada pertumbuhan perdagangan internasional.

Singapura melaporkan awal bulan November 2022 ini, ekspor non-minyak menyusut 5,6% dari bulan sebelumnya pada tahun berjalan. Padahal di bulan November 2022, ekspor non-minyak meningkat sebesar 3,1%.

Analis Chua Hak bin dan Lee Ju Ye dari Malayan Banking melaporkan, penurunan ekspor kemungkinan menjadi tanda peringatan awal potensi resesi pada 2023, utamanya penurunan ekspor di sektor manufaktur dan layanan terkait perdagangan.

Baca Juga: Meleset dari Target, Ekonomi Singapura Tumbuh 4,1% di Kuartal III-2022

Analis memperkirakan, ekspor Singapura akan terus menurun selama sisa tahun ini hingga sepanjang paruh pertama tahun 2023. Ini terjadi karena permintaan ekspor yang melemah, terutama barang elektronik.

Alvin Liew, ekonom senior di Singapura United Overseas Bank menulis dalam sebuah laporan bulan ini bahwa kinerja elektronik yang memburuk dan permintaan yang semakin lemah dari negara tujuan ekspor utama, terutama China, berdampak pada momentum ekspor Singapura.

Ekonom Asean di Bloomberg Economics Tamara Henderson menambahkan, ekonomi di Singapura akan menghadapi banyak tantangan di tahun depan. "Pembukaan kembali kebijakan Zero Covid di China kemungkinan diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Singapura," sambungnya.

Di sisi lain, Singapura mengumumkan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2022hanya 4,1%, lebih rendah dari perkiraan awal di 4,4%.

Baca Juga: Saat Meta dan Twitter PHK Massal, TikTok Rekrut 1.000 Pekerja Baru

Realisasi tersebut membuat pemerintah Singapura memperkecil perkiraan pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 menjadi 3,5%. Sebelumnya, Singapura memberikan kisaran pertumbuhan ekonomi di level 3% hingga 4%.

Invasi Rusia ke Ukraina di tahun ini berdampak pada ketidakstabilan geopolitik seperti melonjaknya harga energi dan pangan, serta pengetatan moneter oleh beberapa bank sentral untuk mengendalikan inflasi.

 

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru