kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.915   14,00   0,08%
  • IDX 6.412   77,18   1,22%
  • KOMPAS100 847   11,03   1,32%
  • LQ45 639   6,00   0,95%
  • ISSI 221   3,35   1,54%
  • IDX30 359   2,24   0,63%
  • IDXHIDIV20 442   1,33   0,30%
  • IDX80 96   1,17   1,23%
  • IDXV30 120   0,87   0,73%
  • IDXQ30 115   0,55   0,48%

S&P Global: Dolar AS Tak Memiliki Daya Tarik Seperti Dulu


Minggu, 16 Juli 2023 / 07:45 WIB
ILUSTRASI. Ekonom S&P Global mengatakan, cengkeraman dolar AS sebagai mata uang global yang dominan semakin melonggar. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja


Sumber: Business Insider,Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

DOLAR AMERIKA SERIKAT - Pada Selasa (12/7/2023), ekonom top lembaga pemeringkat kredit S&P Global mengatakan, cengkeraman dolar AS sebagai mata uang global yang dominan semakin melonggar.

Mengutip Reuters, sanksi AS yang agresif seperti pembekuan cadangan Rusia senilai ratusan miliar dolar tahun lalu telah membuat banyak negara mulai melakukan perdagangan dalam mata uang selain dolar serta meningkatkan cadangan emas mereka.

"Dolar tidak memiliki daya tarik seperti dulu," kata Paul Gruenwald, kepala ekonom S&P di London.

Gruenwald menunjuk beberapa contoh di mana sejumlah negara saat ini menghindari penggunaan dolar AS. 

"Ada hal-hal lain yang terjadi di luar dunia dolar," imbuhnya.

Baca Juga: De-dolarisasi, China Timbun Emas selama 8 Bulan Beruntun

Dia kemudian menyontohkan adanya peningkatan perdagangan yang dilakukan dalam yuan China dan pembiayaan murah yang ditawarkan oleh bank pembangunan yang berkantor pusat di China seperti Asia Infrastructure Investment Bank dan New Development Bank, yang sebelumnya dikenal sebagai bank BRICs.

"(Dolar) AS akan terus menjadi mata uang dunia terkemuka, (tetapi) tidak lagi menjadi mata uang dunia yang dominan," kata Gruenwald.

De-dolarisasi, China timbun emas

Sebelumnya diberitakan, Bank sentral China terus melakukan pembelian emas. Dengan demikian, pembelian logam mulia ini sudah berlangsung selama delapan bulan berturut-turut. Pada bulan Juni 2023, China mencatatkan pembelian emas sebanyak 23 ton.

Menurut data resmi yang dikutip oleh Bloomberg, sekarang, People's Bank of China memiliki cadangan 2.330 ton emas.

Melansir Business Insider, penimbunan emas terjadi di tengah upaya negara itu untuk mengikis dominasi dolar secara global serta meningkatnya kegelisahan ekonomi dan geopolitik. Hal inilah yang kemudian dikenal sebagai de-dolarisasi.

Baca Juga: Brasil & Afrika Pertanyakan Dominasi Dolar AS, Ini Pembelaan Janet Yellen

Sementara itu, bank sentral lain di seluruh dunia juga membeli emas. Pada tahun 2022, permintaan logam kuning meroket, dan tren tersebut berlanjut hingga tahun ini dengan pembelian kuartal pertama naik 176%.

Meskipun greenback telah menjadi aset cadangan devisa sejak lama, pergeseran penggunaan dolar menyusul adanya sanksi Barat terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina, yang secara efektif memotong Moskow dari US$ 300 miliar cadangan mata uang asingnya.

Menurut laporan Dewan Emas Dunia dari bulan Mei, 62% bank sentral memperkirakan bahwa emas akan menjadi bagian cadangan yang lebih besar dalam lima tahun ke depan. Sementara itu cadangan dolar diperkirakan berkurang, terhitung menjadi sekitar 40%-50%.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×