Tahun 2023, Instrumen Investasi Obligasi Dinilai Lebih Menarik dari Saham

Minggu, 22 Januari 2023 | 15:08 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Tahun 2023, Instrumen Investasi Obligasi Dinilai Lebih Menarik dari Saham

ILUSTRASI. Prospek pasar obligasi diperkirakan akan cerah tahun 2023 karena instrumen investasi ini lebih menarik dari saham.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Prospek pasar obligasi diperkirakan akan cerah tahun 2023. Sejumlah analis optimis obligasi akan kembali populer di kalangan investor karena instrumen investasi ini lebih menarik dari saham.

Walaupun sempat reli akhir tahun, namun nilai obligasi korporasi pada tahun 2022 turun hampir 17% menjadi US$ 2,6 triliun, menurut data Bloomberg. Utang perusahaan blue chip mencatat rekor terburuk. Adapun pasar saham hanya turun 13,7%.

Penurunan tajam yang terjadi tahun lalu akan membuat investor bisa membeli obligasi dengan diskon besar. Tahun 2022, rata-rata obligasi korporasi bereiko rendah dihargai 90 sen dalam dollar, sedangkan dua tahun lalu diperdagangan sekitar 110 sen.

Ahli Strategi Bank of Amerika Corp melihat, perusahaan yang punya rating kredit tinggi akan menggunakan uang cadangan untuk mengurangi utang saat ekonomi melemah daripada melakukan buyback saham.

"Ini jadi hal positif bagi pemegang obligasi perusahaan tersebut. Prospek perlambatan ekonomi akan membuat keuntungan korporasi melambat dan itu akan meredupkan prospek saham," tulisnya seperti dikutip Bloomberg, Kamis (12/1).

Baca Juga: Hindari Crowding Out Effect, Pemerintah Terbitkan SBN Valas di Awal Tahun

Jika resesi mendorong perusahaan yang lebih berisiko menuju potensi kebangkrutan maka pemegang saham berpotensi terhapus. Sementara pemegang obligasi biasanya memulihkan setidaknya sebagian dari investasinya.

Manager Investasi Swiss UBS Group AG memprediksi akan terjadi peluang sekali dalam satu dekade untuk kredit. Ahli strategi Bank of Amerika memperkirakan total pengembalian, terutama apresiasi haraga plus bunga, mencapai 9% dari obligasi tingkat tinggi di AS tahun ini.

Namun, itu bukan berarti tidak ada resiko.Meski The Fed menunjukkan sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan berakhir, tidak ada jaminan bahwa inflasi bisa dijinakkan. Peningkatan lebih lanjut dapat memicu atau memperdalam resesi, yang berpotensi mendorong perusahaan yang terlilit utang besar ke dalam default.

Sementara Mike Scott, Manager Investasi Maan GLG memandang akan sulu bagi beberapa perusahaan dengan rating kredit rendah menghasilkan uang tunai pada semester pertama tahun ini di tengah perlambatan tingkat konsumsi.

Manajer investasi ini lebih memilih untuk fokus pada perubahan dramatis dalam imbal hasil obligasi. Berakhirnya uang murah berarti perusahaan teraman sekarang menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada obligasi sampah pada awal tahun lalu, memungkinkan investor untuk mengambil keuntungan yang layak sambil menghindari aset berisiko.

Obligasi blue-chip secara global menghasilkan 5,1%, sedangkan obligasi sampah berada di 4,85% 12 bulan lalu. Itu keuntungan bagi dana pensiun khususnya. Selama era pelonggaran kuantitatif, ketika bank sentral membeli obligasi untuk mempertahankan suku bunga rendah dan merangsang ekonomi, rencana pensiun harus mencari hasil di tempat lain dan berinvestasi dalam segala hal.

Suku bunga yang lebih tinggi telah menghasilkan banyak program pensiun keluar dari ekuitas dan masuk ke obligasi. “Kalau melihat 22 tahun ke belakang, kredit AS murah. Itu sebabnya arus modal masuk lagi.”kata Matthew Rees, kepala strategi obligasi global Legal & General Investment Management Ltd.

Pasific Investmen Management Co juga melihat prospek obligasi cukup kuat tahun ini. Pasalnya, kemungkinan terjadinya resesi akan membuat aset beresiko seperti saham semakin menantang.

Baca Juga: Pasar Saham Terkoreksi, Indeks Obligasi Indonesia Melaju ke Level Tertinggi 12 Bulan

Editor: Handoyo .

Terbaru