kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.878   20,00   0,11%
  • IDX 6.059   -57,20   -0,94%
  • KOMPAS100 792   -2,02   -0,25%
  • LQ45 598   -1,34   -0,22%
  • ISSI 211   -2,09   -0,98%
  • IDX30 338   -0,54   -0,16%
  • IDXHIDIV20 413   -1,89   -0,46%
  • IDX80 90   -0,19   -0,21%
  • IDXV30 111   -0,73   -0,66%
  • IDXQ30 108   -0,02   -0,02%

Taiwan: Perang Rusia dan Ukraina Bisa Jadi Peluang China untuk Tingkatkan Peran Yuan


Senin, 28 Maret 2022 / 14:25 WIB
ILUSTRASI. Perang Rusia dan Ukraina bisa menjadi peluang bagi China untuk meningkatkan profil mata uang yuan dalam melawan dominasi dollar AS. REUTERS/Jason Lee/Illustration.


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Perang di Ukraina dan pengucilan Rusia dari sistem mata uang global bisa menjadi peluang bagi China untuk meningkatkan profil mata uang yuan dalam melawan dominasi dollar AS, Taiwan mengatakan Senin (28/3).

Rusia mengandalkan China untuk membantu menahan pukulan terhadap ekonominya dari sanksi Barat, dan akan menggunakan yuan dari cadangan devisa negeri beruang merah setelah sanksi memblokir akses ke dollar AS dan euro.

Menjawab pertanyaan di parlemen, Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional Taiwan Chen Ming-tong menyatakan, China selalu menginginkan cara untuk menyingkirkan dominasi dollar AS, dan perang di Ukraina bisa meningkatkan penggunaan yuan.

"Baik dalam perdagangan renminbi atau sistem penerbitan mata uang, ini adalah peluang yang harus diambil oleh China," kata Chen, menggunakan nama resmi yuan, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Ramalan Miliarder Rusia: Perang Rusia-Ukraina akan Berlangsung Beberapa Tahun Lagi

Dan, Chen menyebutkan, perang benar-benar bisa meningkatkan hubungan China-AS jika Beijing memilih untuk berdiri dengan Washington dengan cara yang sama setelah serangan 11 September 2001 yang mendapatkan niat baik Amerika Serikat.

"Perang Ukraina-Rusia mungkin merupakan peluang gaya 9/11 (11 September 2001) lainnya," ujarnya.

Beijing telah berulang kali menyuarakan penentangan terhadap sanksi terhadap Rusia dan bersikeras akan mempertahankan kerjasama ekonomi juga perdagangan yang normal. 

China menolak untuk mengutuk tindakan Rusia di Ukraina atau menyebutnya sebagai invasi.

Namun di balik layar, China mewaspadai perusahaannya yang melanggar sanksi dan menekan perusahaan untuk melangkah hati-hati dengan investasi di Rusia, pemasok minyak terbesar kedua dan penyedia gas terbesar ketiga di dunia.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×