kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45979,88   -2,07   -0.21%
  • EMAS1.179.000 1,29%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Taiwan Perketat Pertahanan, di Tengah Ancaman Serangan Drone Mematikan China


Senin, 23 Oktober 2023 / 09:15 WIB
Taiwan Perketat Pertahanan, di Tengah Ancaman Serangan Drone Mematikan China
ILUSTRASI. Taiwan bergegas untuk mempertahankan diri dari kemungkinan serangan kawanan drone otonom China yang mematikan. REUTERS/Dado Ruvic


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Taiwan bergegas untuk mempertahankan diri dari kemungkinan serangan kawanan drone otonom China yang mematikan. Drone tersebut dapat menyerang wilayah udara Taiwan dalam potensi konflik di masa depan.

Mengutip The Telegraph, militer Taiwan telah mulai mengerahkan teknologi anti-drone baru di pulau-pulau terpencil Taiwan dalam beberapa mil dari pantai tenggara China. Wilayah ini memang berada di garis depan dalam menghadapi peningkatan intrusi drone komersial selama setahun terakhir.

Kekhawatiran muncul bahwa dukungan AS terhadap perang Ukraina dapat mengalihkan senjata yang dapat digunakan untuk membela Taiwan. Selain itu, pecahnya perang di Israel kemungkinan akan meningkatkan ketakutan atas ancaman invasi China.

Kepulauan Taiwan kerap menjadi sasaran gelombang serangan drone komersial di dekat pos-pos militer yang sensitif setelah kunjungan Nancy Pelosi, mantan ketua DPR AS, pada Agustus tahun lalu yang membuat marah Beijing.

Kementerian Pertahanan Taiwan berjanji untuk memasang sistem anti-drone setelah terjadi kemarahan publik atas beredarnya video rekaman tentara Taiwan yang melemparkan batu ke drone Tiongkok yang mendengung di pos penjagaan mereka.

Di bawah program Tim Nasional Drone, Taiwan menggabungkan upaya pembuat drone komersial, perusahaan penerbangan dan ruang angkasa, serta militer untuk membangun lebih dari 3.200 drone militer pada pertengahan tahun 2024. 

Baca Juga: Xi Jinping Sudah Punya 500 Bom Nuklir, AS Cemas

Ini termasuk drone mini serta pesawat pengintai yang lebih besar dengan jangkauan mencapai 150 km.

Yu-Jiu Wang, CEO Tron Future, perusahaan rintisan yang memelopori sistem radar, jamming, dan intersepsi, mengatakan kepada The Telegraph: 

“Jika Anda dapat membayangkan konflik serius seperti Perang Dunia 3, hal itu bisa menjadi sangat menakutkan – segerombolan drone membawa beberapa peluru di masing-masing drone dan mereka dapat mengenali orang dan menembak jatuh mereka. Itu bisa saja terjadi. Teknologinya sudah ada.”

Dia mengatakan sistemnya bersifat defensif dan pada awalnya akan digunakan untuk melindungi infrastruktur utama, termasuk pembangkit listrik, stasiun pangkalan telekomunikasi, dan bendungan.

Baca Juga: Taipei: China Punya Banyak Cara untuk Intervensi dalam Pemilu di Taiwan

Namun dia mengatakan perusahaan tersebut, yang berbasis di pusat mikrochip Taiwan, Hsinchu, mengalihkan fokusnya untuk mempersiapkan skenario terburuk berupa gerombolan drone yang sepenuhnya otonom yang dapat membanjiri langit dan mendatangkan malapetaka di darat.

"Ancaman perang drone otonom – meskipun bersifat futuristik – adalah nyata dan akan segera terjadi mengingat pesatnya kemajuan teknologi di seluruh dunia," katanya.




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Corporate Financial Planning & Analysis Mastering Data Analysis & Visualisation with Excel

[X]
×