kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Teheran marah besar atas pembunuhan ilmuwan nuklir, AS-Iran di ambang perang?


Selasa, 01 Desember 2020 / 07:34 WIB
ILUSTRASI. Kecemasan pecahnya Perang Dunia III semakin meningkat setelah Teheran marah besar atas pembunuhan ilmuwan nuklir. REUTERS/ Patrick T. Fallon


Sumber: Express.co.uk | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Kecemasan akan pecahnya Perang Dunia III semakin meningkat setelah Teheran marah besar atas pembunuhan seorang ilmuwan nuklir Iran.

Melansir Express.co.uk, pakar politik Iran Ali Arouzi memperingatkan, Teheran dipastikan ingin membalas dan mengirim pesan ke AS dan Israel setelah kematian Mohsen Fakhrizadeh. Fakhrizadeh merupakan ilmuwan terkemuka dan tokoh penting dalam infrastruktur dan program nuklir negara itu. 

Dijelaskan, Fakhrizadeh meninggal dunia karena luka-luka setelah serangan bom dan senjata di mobilnya di kota Absard pada hari Jumat lalu.

Arouzi menilai, Iran ingin membalas dendam dengan cara yang sama seperti ketika AS membunuh Qasem Soleimani.

Baca Juga: Media Iran sebut ilmuwan nuklir top negaranya dibunuh dengan senjata buatan Israel

"Para pemimpin Iran harus membuat beberapa keputusan sulit. Mereka ingin membalas secara langsung, seperti yang mereka lakukan dengan Qasem Soleimani daripada menggunakan proxy mereka di wilayah tersebut," jelas Arouzi seperti dikutip Express.co.uk.

Dia menambahkan, "Aksi balasan itu ditujukan untuk mengirim pesan ke AS dan Israel, serta sebagai aksi untuk menyelamatkan muka mereka."

Arouzi juga menjelaskan konsekuensi dari serangan Iran yang terlalu cepat setelah pembunuhan tersebut.

Baca Juga: Serangan roket ISIS menyebabkan kebakaran kilang minyak di Irak utara

"Jika Iran benar-benar menyerang sebelum Joe Biden menjabat, mereka tidak hanya berisiko menghentikan kesepakatan nuklir sama sekali, yang sangat mereka inginkan untuk kembali ke jalurnya. Akan tetapi, hal itu juga bisa memicu pembalasan besar-besaran di akhir masa kepresidenan Donald Trump," paparnya.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×