kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Terkait krisis di Myanmar, Rusia berjanji akan ada di sisi ASEAN


Selasa, 06 Juli 2021 / 13:50 WIB
ILUSTRASI. Kepala junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing, memimpin parade militer pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (27/3/2021).


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rusia dengan sepenuh hati menyatakan dukungannya terhadap upaya diplomasi ASEAN dalam mengakhiri krisis di Myanmar. Menteri Luar Negeri Rusia menyampaikan dukungannya tersebut ke masing-masing pemimpin negara ASEAN pada hari Selasa (6/7).

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mendukung penerapan konsensus berisi lima poin yang disepakati oleh ASEAN. Ia menyebut konsensus itu harus menjadi dasar di mana situasi dapat diselesaikan.

"Dalam kontak kami dengan para pemimpin di Myanmar, kami mempromosikan posisi ASEAN yang menurut kami harus dipertimbangkam sebagai dasar untuk menyelesaikan krisis dan mengembalikan situasi menjadi normal," ungkap Lavrov, seperti diikutip Reuters.

Lavrov saat ini akan mengadakan pembicaraan virtual dengan para mitra di ASEAN selama kunjungan ke Jakarta.

Bagi banyak pihak, pernyataan dukungan Lavrov ini dinilai sangat penting, apalagi sejauh ini posisi Rusia dianggap kerap menghalangi proses penyelesaian konflik di Myanmar.

Ketika banyak kekuatan global utama memberikan sanksi kepada sektor bisnis Myanmar serta menyerukan larangan penjualan senjata ke negara itu, Rusia justru menjalin hubungan militer yang semakin dalam dengan junta Myanmar.

Baca Juga: Kekerasan di Myanmar harus dihentikan, ini 5 kesepakatan KTT ASEAN

Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, sebenarnya menyetujui rencana perdamaian ASEAN yang dicapai pada bulan April. Namun, militer Myanmar tidak menunjukkan niat untuk menindaklanjutinya dan malah mengulangi beragam aksi represif.

Konsensus yang dicapai ASEAN pada dasarnya menyerukan dialog antara semua pihak, penunjukan utusan khusus, akses kemanusiaan yang lebih besar dan diakhirinya kekerasan.

Sayangnya, Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang menjadi anggota paling vokal di ASEAN mengaku kecewa karena tindakan militer Myanmar terkait seruan tersebut sangat lambat, bahkan hampir tidak terlihat.

Rusia yang kini mengaku mendukung ASEAN, sebenarnya juga menjadi pemasok utama senjata ke Myanmar dan jadi salah satu dari sedikit negara yang mengakui junta dan telah mengirim pejabat tinggi ke negara itu untuk bertemu para jenderalnya.

Bulan lalu, Rusia menyambut Min Aung Hlaing dan delegasi militer untuk kunjungan panjang ke Moskow, di mana ia memberikan banyak pidato dan wawancara media dan dianugerahi gelar profesor kehormatan.

Selanjutnya: Sebanyak 230.000 penduduk mengungsi akibat gejolak politik di Myanmar




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×