CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   0,00   0,00%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Timur Tengah Memanas: Brent Tembus ke Atas US$ 90 Per Barel Lagi


Senin, 20 Juli 2026 / 15:54 WIB
Timur Tengah Memanas: Brent Tembus ke Atas US$ 90 Per Barel Lagi
ILUSTRASI. Harga minyak mentah acuan Brent dan WTI mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu bulan setelah perang Timur Tengah kembali terjadi (REUTERS/Ahmed Jadallah)


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak naik di awal rejan ini ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan, dengan minyak mentah Brent sempat naik di atas US$ 90 per barel karena meningkatnya permusuhan antara AS dan Iran membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Senin (20/7/2026) pukul 15.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 naik US$ 1,03, atau 1,17%, menjadi US$ 89,13 per barel dan menyentuh level tertinggi sejak 11 Juni dan memperpanjang kenaikan besar minggu lalu sebesar 15,9%. Itu merupakan kenaikan mingguan terbesar Brent sejak April.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 naik 65 sen, atau 0,79%, menjadi US$ 83,14 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 12 Juni 2026. Harga untuk pengiriman bulan depan telah naik 15,5% pada minggu lalu yang merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak awal Maret.

"Pasar minyak kembali mengencang menurut saya, yang kemungkinan akan menjaga harga minyak tetap terdukung," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Baca Juga: APLN Alihkan 35,5% Kepemilikan Saham di Anak Usaha ke Hankyu Hanshin, Ini Tujuannya

“Serangan berulang-ulang terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz telah mengakibatkan berkurangnya jumlah kapal tanker yang keluar dari Teluk.”

Konflik Timur Tengah meningkat pada akhir pekan, dengan AS melancarkan serangan malam kesembilan berturut-turut terhadap Iran, sementara sekutu AS, Kuwait dan Bahrain, melaporkan lebih banyak serangan dari Iran.

Korps Pengawal Revolusi Islam mengatakan pada hari Senin bahwa dua kapal tanker minyak tidak dapat bergerak setelah terjadi ledakan ketika mereka berusaha untuk transit di apa yang mereka gambarkan sebagai rute selatan yang tidak aman melalui Selat Hormuz, dan menuduh mereka didorong oleh militer AS untuk menggunakan jalur tersebut.

Reuters tidak dapat memperoleh verifikasi langsung atas kejadian tersebut.

"Narasi pasokan menjadi lebih bearish. Pemulihan pengiriman yang diantisipasi telah terhenti, dengan volume transit Selat Hormuz turun hingga satu digit," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

Empat kapal melakukan transit melalui Selat Hormuz pada hari Minggu, turun dari delapan kapal pada hari sebelumnya, data LSEG menunjukkan. Setidaknya tiga kapal tanker produk minyak dan satu kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar telah memasuki selat tersebut sejak Jumat untuk memuat minyak, data menunjukkan.

Dalam beberapa hari-hari terakhir, kedua belah pihak sama-sama menargetkan lalu lintas pelayaran, dengan AS mengatakan pihaknya memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan Iran mengatakan pihaknya menargetkan kapal-kapal yang melanggar peraturannya dalam menavigasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Andy Burnham Jadi PM Inggris, Siapkan Perombakan Besar Kebijakan Ekonomi

Sebuah kapal terbakar di barat laut Kumzar, Oman, kata pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris pada Senin pagi. Negara-negara Teluk meningkatkan ekspor minyak mentah dan kondensat pada paruh pertama bulan Juli – ke level tertinggi sejak sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, menurut data pelayaran, meskipun arus melalui Selat Hormuz kini melambat karena meningkatnya pertempuran.

Runtuhnya gencatan senjata AS-Iran telah menghidupkan kembali kekhawatiran atas pasokan energi yang mengalir melalui selat tersebut. Sebelum perang Iran, sekitar 20% pasokan minyak global mengalir melalui jalur air tersebut. Iran juga menekan kelompok Houthi untuk menutup jalur Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur listrik Iran.




TERBARU

[X]
×