Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Rabu (8/4/2026) bahwa impor dari negara-negara yang memasok Iran dengan senjata militer akan dikenakan tarif 50% secara langsung tanpa pengecualian apa pun. Ancaman tarif baru ini disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump menyetujui gencatan senjata dua minggu dengan Teheran.
Reuters memberitakan, setelah lebih dari lima minggu serangan udara terhadap peluncur rudal Iran, instalasi militer, dan industri persenjataan, Trump kembali menggunakan alat tekanan kebijakan luar negeri favoritnya, yakni tarif, yang pada dasarnya menjadi peringatan kepada China dan Rusia melalui unggahan media sosial agar tidak mengisi kembali persediaan militer Iran.
Namun, Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Februari telah mencabut kewenangan tarif paling cepat dan paling luas yang dimiliki presiden AS, yakni International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Pengadilan memutuskan bahwa tarif global paling luas yang diberlakukan Trump berdasarkan undang-undang tahun 1977 tersebut adalah ilegal.
“Negara yang memasok Senjata Militer kepada Iran akan segera dikenai tarif, untuk semua barang apa pun yang dijual ke Amerika Serikat, 50%, berlaku segera. Tidak akan ada pengecualian atau pembebasan! Presiden DJT,” tulis Trump di platform Truth Social, tanpa menyebutkan negara mana pun.
China dan Rusia telah membantu Iran membangun kapasitas militernya untuk menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, dengan memasok rudal, sistem pertahanan udara, serta teknologi dual-use (berfungsi ganda) yang dimaksudkan untuk memperkuat daya tangkal Iran. Namun dukungan tersebut tampaknya dibatasi selama serangan AS-Israel terhadap Iran berlangsung.
Baik Beijing maupun Moskow membantah telah memasok senjata baru-baru ini, meski tuduhan terhadap Rusia tetap berlanjut.
Baca Juga: Risalah The Fed Maret 2026: Dua Skenario Suku Bunga Menanti, Mana yang Dominan?
Reuters melaporkan pada Februari, sebelum serangan pertama AS dan Israel terhadap Iran, bahwa Teheran mempertimbangkan pembelian rudal jelajah anti-kapal supersonik dari China. Reuters juga melaporkan pada Maret bahwa produsen semikonduktor terbesar China, SMIC, telah mengirimkan alat pembuatan chip ke militer Iran, menurut dua pejabat senior pemerintahan Trump.
“Ini ancaman yang berkaitan dengan China, jika saya membacanya seperti itu. Dan China juga akan membacanya seperti itu,” kata Josh Lipsky, wakil presiden sekaligus ketua bidang ekonomi internasional di Atlantic Council.
Meskipun komponen drone dan rudal secara rutin mengalir dari entitas-entitas China ke Iran dengan menghindari sanksi AS, Lipsky mengatakan Trump kemungkinan tidak akan benar-benar menindaklanjuti tarif baru tersebut dalam waktu dekat karena hal itu dapat menggagalkan rencana perjalanannya ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Pada Selasa, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan Trump akan berupaya mempertahankan stabilitas hubungan AS-China saat ini, guna menjaga akses AS terhadap mineral tanah jarang (rare earth) dan magnet produksi China, sembari mempertahankan tingkat tarif yang sudah berlaku sebelumnya. Greer mengatakan Trump ingin menghindari “konfrontasi besar” dengan Xi.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran yang Rapuh Terancam Bubar Setelah Israel Menghantam Lebanon
Alternatif Instrumen Tarif
Dari instrumen perdagangan yang masih tersedia bagi Trump, langkah “Section 301” terkait praktik perdagangan tidak adil terhadap barang-barang China dari masa jabatan pertamanya dinilai menjadi kendaraan yang paling mungkin digunakan untuk menambah tarif secara cepat, kata Lipsky.
Instrumen lain yang lebih terbatas adalah Section 232 dari Trade Expansion Act tahun 1962 (era Perang Dingin), yang bertujuan melindungi industri strategis dalam negeri dengan alasan keamanan nasional. Namun instrumen ini hanya memungkinkan pengenaan tarif pada sektor-sektor tertentu, sehingga tidak berdampak luas ke seluruh perekonomian seperti tarif berbasis IEEPA sebelumnya.
Tarif Trump terhadap barang-barang China selama hampir delapan tahun terakhir telah memangkas impor AS dari China secara tajam, dari puncaknya sebesar US$ 538,5 miliar pada 2018 menjadi US$ 308,4 miliar pada 2025. Penurunan lebih lanjut juga tercatat pada Januari dan Februari 2026.
Rusia juga merupakan salah satu sumber teknologi persenjataan bagi Iran. Namun impor barang-barang Rusia ke AS juga telah menyusut sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan gelombang sanksi keuangan yang dijatuhkan kepada Moskow setelah peristiwa tersebut.
Tonton: Iran Serang Jantung Energi Saudi! Balas Dendam ke Israel Picu Eskalasi Besar
Impor AS dari Rusia, yang merupakan salah satu dari sedikit negara yang tidak dikenai tarif “resiprokal” Trump yang kini telah dibatalkan, naik 26,1% menjadi US$ 3,8 miliar pada 2025.
Impor tersebut didominasi oleh palladium, yang digunakan dalam catalytic converter kendaraan, pupuk serta bahan bakunya, serta uranium yang diperkaya untuk reaktor nuklir.
Departemen Perdagangan AS saat ini juga sedang bergerak untuk mengenakan tarif hukuman terhadap palladium Rusia setelah penyelidikan anti-dumping.













