Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Proposal untuk menunda pembicaraan isu nuklir hingga tahap berikutnya tampaknya bertentangan dengan tuntutan Washington yang berulang kali menyatakan bahwa Iran harus menerima pembatasan ketat atas program nuklirnya sebelum perang bisa diakhiri.
Washington ingin Teheran menyerahkan stok lebih dari 400 kilogram (900 pon) uranium yang diperkaya tinggi, yang menurut AS dapat digunakan untuk membuat bom. Iran menyatakan program nuklirnya bersifat damai, meskipun bersedia membahas pembatasan tertentu dengan imbalan pencabutan sanksi.
Iran pernah menerima pembatasan tersebut dalam kesepakatan tahun 2015, namun kesepakatan itu ditinggalkan Trump.
Meski terus mengatakan ia tidak terburu-buru, Trump kini menghadapi tekanan domestik untuk mematahkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Penutupan selat itu telah menghambat 20% pasokan minyak dan gas dunia serta mendorong naik harga bensin di AS.
Partai Republik yang dipimpin Trump berisiko menghadapi kemarahan pemilih akibat kenaikan harga menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.
Tonton: IHSG Jatuh ke 6.900! Asing Kabur
Media Iran menyebut proposal 14 poin Teheran mencakup penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar, pencabutan blokade, pembebasan aset yang dibekukan, pembayaran kompensasi, pencabutan sanksi, penghentian perang di semua front termasuk Lebanon, serta pembentukan mekanisme kontrol baru untuk selat tersebut.
Berbicara dengan syarat anonim untuk membahas diplomasi yang bersifat rahasia, pejabat senior Iran mengatakan Teheran percaya proposal terbaru untuk menunda pembahasan nuklir ke tahap akhir merupakan perubahan besar demi mempermudah tercapainya kesepakatan.
“Dalam kerangka ini, negosiasi terkait isu nuklir yang lebih rumit dipindahkan ke tahap akhir agar tercipta suasana yang lebih kondusif,” kata pejabat tersebut.













