Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Minggu (3/5/2026) bahwa Amerika Serikat akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026) pagi.
Melansir Reuters, Trump, melalui unggahan di media sosial Truth Social miliknya, tidak memberikan banyak rincian mengenai operasi tersebut, termasuk apakah Angkatan Laut AS akan dilibatkan.
Ia menggambarkan upaya itu sebagai sebuah “gestur kemanusiaan” yang hanya bertujuan membantu negara-negara netral yang tidak terlibat dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Baca Juga: Data Tenaga Kerja AS Akan Menentukan Arah Ekonomi Global
“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan terbatas ini, agar mereka dapat melanjutkan bisnis mereka dengan bebas dan lancar,” tulis Trump dalam unggahan tersebut.
Gedung Putih dan Pentagon tidak segera merespons permintaan informasi tambahan.
Bulan lalu, Amerika Serikat memberlakukan blokade sendiri terhadap kapal-kapal yang berasal dari pelabuhan Iran. Namun, belum jelas negara mana saja yang akan dibantu oleh operasi AS ini atau bagaimana mekanismenya akan dijalankan. Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait hal tersebut, sementara Pentagon menolak berkomentar.
Trump mengancam bahwa setiap gangguan terhadap operasi AS tersebut “harus ditangani dengan kekuatan.”
Iran pada Minggu mengatakan bahwa mereka telah menerima respons AS terhadap tawaran terbaru Iran untuk perundingan damai, sehari setelah Trump menyatakan kemungkinan besar ia akan menolak proposal Iran karena “mereka belum membayar harga yang cukup besar.”
Iran Meninjau Respons AS atas Proposal Perdamaian
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Washington telah menyampaikan responsnya atas proposal 14 poin Iran melalui Pakistan, dan Teheran kini sedang meninjau respons tersebut. Belum ada konfirmasi langsung dari Washington maupun Islamabad terkait respons AS tersebut.
“Pada tahap ini, kami tidak memiliki negosiasi nuklir,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei seperti dikutip media pemerintah.
Pernyataan itu tampaknya merujuk pada proposal Iran yang ingin menunda pembahasan isu nuklir hingga perang berakhir dan kedua pihak sepakat mencabut blokade terhadap pelayaran di Teluk.
Tonton: China Desak Selat Hormuz Dibuka, Isu Ini Bakal Jadi Topik Panas Saat Trump ke Beijing
Pada Sabtu, Trump mengatakan bahwa ia belum meninjau secara detail isi proposal perdamaian Iran, namun kemungkinan besar ia akan menolaknya.
“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi sulit membayangkan itu dapat diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir,” tulis Trump di media sosial.
Amerika Serikat dan Israel menghentikan kampanye pengeboman mereka terhadap Iran empat minggu lalu, dan pejabat AS serta Iran sempat melakukan satu putaran pembicaraan. Namun, upaya untuk mengatur pertemuan lanjutan sejauh ini gagal.
Iran menyerahkan proposal terbaru pada Kamis, dan seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi pada Sabtu bahwa Teheran membayangkan perang harus diakhiri dan kebuntuan pelayaran diselesaikan lebih dulu, sementara pembahasan program nuklir Iran akan dibicarakan belakangan.
Meski Trump pada Jumat awalnya mengatakan ia tidak puas dengan proposal Iran, ia menyatakan pada Sabtu bahwa ia masih mempertimbangkannya.
“Mereka memberi tahu saya konsep dari kesepakatan itu. Mereka akan memberikan redaksi persisnya sekarang,” kata Trump kepada wartawan.
Ketika ditanya apakah ia mungkin kembali melancarkan serangan terhadap Iran, Trump menjawab:
“Saya tidak ingin mengatakan itu. Maksud saya, saya tidak bisa mengatakan itu kepada reporter. Kalau mereka bertindak buruk, kalau mereka melakukan sesuatu yang buruk, kita lihat saja. Tapi itu sebuah kemungkinan yang bisa terjadi.”
Proposal Iran vs Tuntutan Washington
Proposal untuk menunda pembicaraan isu nuklir hingga tahap berikutnya tampaknya bertentangan dengan tuntutan Washington yang berulang kali menyatakan bahwa Iran harus menerima pembatasan ketat atas program nuklirnya sebelum perang bisa diakhiri.
Washington ingin Teheran menyerahkan stok lebih dari 400 kilogram (900 pon) uranium yang diperkaya tinggi, yang menurut AS dapat digunakan untuk membuat bom. Iran menyatakan program nuklirnya bersifat damai, meskipun bersedia membahas pembatasan tertentu dengan imbalan pencabutan sanksi.
Iran pernah menerima pembatasan tersebut dalam kesepakatan tahun 2015, namun kesepakatan itu ditinggalkan Trump.
Meski terus mengatakan ia tidak terburu-buru, Trump kini menghadapi tekanan domestik untuk mematahkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Penutupan selat itu telah menghambat 20% pasokan minyak dan gas dunia serta mendorong naik harga bensin di AS.
Partai Republik yang dipimpin Trump berisiko menghadapi kemarahan pemilih akibat kenaikan harga menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.
Tonton: IHSG Jatuh ke 6.900! Asing Kabur
Media Iran menyebut proposal 14 poin Teheran mencakup penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar, pencabutan blokade, pembebasan aset yang dibekukan, pembayaran kompensasi, pencabutan sanksi, penghentian perang di semua front termasuk Lebanon, serta pembentukan mekanisme kontrol baru untuk selat tersebut.
Berbicara dengan syarat anonim untuk membahas diplomasi yang bersifat rahasia, pejabat senior Iran mengatakan Teheran percaya proposal terbaru untuk menunda pembahasan nuklir ke tahap akhir merupakan perubahan besar demi mempermudah tercapainya kesepakatan.
“Dalam kerangka ini, negosiasi terkait isu nuklir yang lebih rumit dipindahkan ke tahap akhir agar tercipta suasana yang lebih kondusif,” kata pejabat tersebut.













