kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Trump dan Xi Jinping Bahas Iran, Taiwan hingga AI dalam Pertemuan di Beijing


Senin, 11 Mei 2026 / 10:34 WIB
Trump dan Xi Jinping Bahas Iran, Taiwan hingga AI dalam Pertemuan di Beijing
ILUSTRASI. Pertemuan Trump-Xi berpotensi perpanjang gencatan perang dagang. Apa artinya bagi pasokan mineral langka dan industri AS? (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan membahas sejumlah isu strategis mulai dari Iran, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), hingga senjata nuklir dalam pertemuan bilateral di Beijing pekan ini.

Pertemuan tersebut menjadi tatap muka pertama kedua pemimpin dalam lebih dari enam bulan terakhir, di tengah upaya menstabilkan hubungan dua ekonomi terbesar dunia yang sempat memanas akibat perang dagang, konflik Iran, dan berbagai isu geopolitik lainnya.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu untuk menjalani kunjungan selama dua hari. Ini menjadi kunjungan pertamanya ke China sejak tahun 2017.

Fokus pada Perdagangan dan Mineral Kritis

Pejabat AS menyebut Washington dan Beijing diperkirakan akan menyepakati pembentukan forum untuk mempermudah perdagangan dan investasi bilateral. Selain itu, China juga diperkirakan mengumumkan pembelian produk-produk asal AS, termasuk pesawat buatan Boeing, komoditas pertanian, dan energi.

Baca Juga: Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Melonjak dan Hormuz Memanas

Kedua negara juga membahas kemungkinan memperpanjang gencatan perang dagang yang memungkinkan aliran mineral tanah jarang atau rare earth dari China ke AS tetap berlangsung.

Kesepakatan tersebut dinilai penting bagi industri teknologi dan manufaktur AS, mengingat China masih menjadi pemasok dominan mineral kritis dunia.

"Kesepakatan itu belum berakhir," kata salah satu pejabat AS kepada wartawan.

"Saya yakin kami akan mengumumkan setiap kemungkinan perpanjangan pada waktu yang tepat," tambahnya.

Rencana pembentukan Board of Trade dan Board of Investment juga kemungkinan diumumkan dalam pertemuan tersebut, meski implementasinya masih membutuhkan pembahasan lanjutan.

Iran dan Rusia Jadi Sorotan

Isu Iran diperkirakan menjadi salah satu pembahasan paling sensitif. China diketahui memiliki hubungan ekonomi erat dengan Iran dan menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran.

Pemerintahan Trump disebut terus menekan Beijing agar menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran guna mendorong penyelesaian konflik dengan Washington. Konflik tersebut meningkat setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Selain Iran, AS juga kembali menyoroti hubungan dagang dan teknologi China dengan Rusia, termasuk dugaan pasokan barang dual-use yang dapat digunakan untuk kepentingan militer.

"Presiden telah beberapa kali berbicara dengan Sekretaris Jenderal Xi Jinping mengenai isu Iran maupun Rusia," ujar salah satu pejabat AS.

Baca Juga: Harga Emas Turun Imbas Memudarnya Prospek Perundingan Damai AS-Iran

Taiwan dan AI Perbesar Ketegangan

Dari sisi Beijing, isu Taiwan tetap menjadi sumber ketegangan utama. China terus menegaskan klaimnya atas Taiwan, sementara AS masih menjadi pendukung internasional dan pemasok senjata utama bagi pulau tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, China meningkatkan aktivitas militernya di sekitar Taiwan. Namun, pejabat AS menegaskan kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak akan berubah.

Selain itu, pemerintahan Trump juga menyampaikan kekhawatiran terhadap perkembangan model kecerdasan buatan canggih yang dikembangkan China. Kedua negara dinilai perlu memiliki jalur komunikasi khusus guna menghindari konflik terkait penggunaan teknologi AI.

"Bentuk konkretnya masih belum ditentukan, tetapi kami ingin memanfaatkan pertemuan para pemimpin ini untuk membuka dialog," kata pejabat tersebut.

Pembahasan Senjata Nuklir

Washington juga kembali berupaya membuka dialog pengendalian senjata nuklir dengan Beijing. Namun, China disebut masih enggan membahas kapasitas arsenal nuklirnya.

Menurut pejabat AS, pemerintah China secara pribadi telah menyampaikan bahwa mereka belum tertarik untuk melakukan pembicaraan mengenai kontrol senjata nuklir.

Pertemuan terakhir Trump dan Xi berlangsung pada Oktober tahun lalu di South Korea. Saat itu, keduanya sepakat menghentikan sementara perang dagang yang memicu tarif tinggi terhadap produk China dan ancaman pembatasan ekspor rare earth oleh Beijing.

Di sisi lain, Mahkamah Agung AS pada Februari lalu memutuskan Trump tidak memiliki kewenangan untuk memberlakukan sebagian tarif impor global. Meski demikian, Trump berjanji akan kembali menerapkan sejumlah tarif melalui jalur hukum lainnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×