kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.973.000   129.000   4,54%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Pesan Xi Jinping ke Putin-Trump: Ini Kunci Stabilitas Dunia di 2026


Kamis, 05 Februari 2026 / 01:42 WIB
Pesan Xi Jinping ke Putin-Trump: Ini Kunci Stabilitas Dunia di 2026
ILUSTRASI. President Vladimir Putin Meet President Xi Jinping (KONTAN/Kremlin.ru)


Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Di awal musim semi, ketika kalender lunar China menandai Lichun—titik balik alam menuju kehidupan baru—Presiden China Xi Jinping membuka lembaran diplomasi dengan dua kekuatan besar dunia, Rusia dan Amerika. Dari Beijing, pesan kepada dua negara besar itu disampaikan secara virtual, namun maknanya melintasi jarak dan waktu.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, melalui unggahan di akun media sosial X, Presiden Xi menggelar pertemuan virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu 4 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Xi menyinggung makna simbolik awal musim semi sebagai hari yang penuh pertanda baik. Di momen itu, ia menyatakan kesiapan China untuk bekerja bersama Rusia guna menggambar cetak biru baru hubungan bilateral kedua negara.

Baca Juga: Xi Jinping dan Vladimir Putin Lakukan Panggilan Video, Ini Isinya

Presiden Xi menegaskan, China dan Rusia perlu memastikan hubungan kedua negara terus berkembang di jalur yang benar, dengan koordinasi strategis yang lebih mendalam serta pendekatan yang lebih proaktif dalam menjalankan tanggung jawab sebagai dua negara besar dunia.

Lebih jauh, Xi menempatkan hubungan Beijing–Moskow dalam konteks global. Sebagai negara besar yang bertanggung jawab sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia disebut memiliki kewajiban untuk menghimpun kekuatan global demi menegakkan keadilan dan kewajaran internasional. Kedua raksasa dari Timur ini  juga diharapkan menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II, mempertahankan sistem internasional yang berpusat pada PBB, menegakkan norma dasar hukum internasional, serta menjaga stabilitas strategis global.

Penerimaan Pajak Januari 2026 Tembus Rp116 Triliun! Menkeu Purbaya: Tanda Ekonomi Berbalik Arah

 

Telepon Donald Trump

Pada waktu yang berdekatan, Xi Jinping juga menjalin komunikasi lintas samudra. Ia melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump, menandai kesinambungan dialog antara dua ekonomi terbesar dunia.

Dalam percakapan itu, Xi mengingatkan bahwa selama setahun terakhir, China dan Amerika Serikat menikmati komunikasi yang relatif baik, termasuk pertemuan di Busan yang disebut berhasil menetapkan arah dan jalur hubungan bilateral. Perkembangan tersebut, menurut Xi, disambut positif oleh masyarakat kedua negara dan komunitas internasional.

Memasuki tahun baru, Xi menyampaikan harapan untuk bekerja bersama Trump mengemudikan “kapal raksasa” hubungan China–AS agar tetap melaju stabil di tengah angin dan gelombang tantangan global. Ia menekankan pentingnya menciptakan lebih banyak “hal besar dan hal baik” bagi kedua negara dan dunia.

Baca Juga: Surplus China 2025: Ini 15 Negara Penyumbang Terbesar, Ada Indonesia?

Namun, di balik nada kooperatif itu, Xi juga menegaskan garis batas yang tak bisa ditawar. Kepada Presiden Trump, Xi menekankan bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling penting dalam hubungan China–Amerika Serikat. Taiwan, kata Xi, adalah bagian dari wilayah China, sehingga Beijing memiliki kewajiban mutlak untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.

Xi menegaskan, China tidak akan pernah mengizinkan Taiwan dipisahkan dari wilayahnya. Dalam konteks ini, ia juga meminta Amerika Serikat untuk menangani isu penjualan senjata ke Taiwan secara hati-hati dan penuh kehati-hatian, mengingat sensitivitas dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.

Presiden Xi turut menggarisbawahi bahwa kekhawatiran bukan hanya milik Amerika Serikat, melainkan juga China. Ia menekankan prinsip konsistensi Beijing: mengatakan apa yang dilakukan, dan melakukan apa yang dikatakan. Jika kedua pihak berjalan searah, berlandaskan kesetaraan, saling menghormati, dan manfaat bersama, Xi menyatakan keyakinannya bahwa jalan keluar atas berbagai kekhawatiran dapat ditemukan.

Baca Juga: Mudik Imlek 2026 di China Diprediksi Pecahkan Rekor, Tembus 9,5 Miliar Perjalanan

Xi menyerukan agar kedua negara berpegang pada kesepahaman yang telah dicapai, memperkuat dialog dan komunikasi, mengelola perbedaan secara tepat, serta memperluas kerja sama praktis. Dalam ungkapannya yang bernada reflektif, Xi menyebut bahwa melakukan hal baik, sekecil apa pun, selalu benar, sementara melakukan hal buruk, sekecil apa pun, selalu keliru.

Dengan langkah bertahap dan pembangunan kepercayaan yang konsisten, Presiden Xi berharap tahun 2026 dapat menjadi penanda ketika China dan Amerika Serikat melangkah menuju saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan kerja sama yang saling menguntungkan—sebuah arah yang, seperti awal musim semi, menjanjikan pertumbuhan di tengah dunia yang terus bergerak dan berubah.

Selanjutnya: BTN Percepat Penyelesaian NPL Konstruksi Lewat Sekema Ini




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×