kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Trump mencari tambahan US$ 1,6 miliar agar NASA dapat kembali ke bulan tahun 2024


Selasa, 14 Mei 2019 / 13:52 WIB

Trump mencari tambahan US$ 1,6 miliar agar NASA dapat kembali ke bulan tahun 2024

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan presiden Trump meminta Kongres pada hari Senin untuk meningkatkan pengeluaran tambahan untuk NASA tahun depan sebesar US$ 1,6 miliar "uang muka" untuk mengakomodasi tujuan percepatan pengiriman orang Amerika ke bulan di tahun 2024.

Permintaan peningkatan pendanaan diumumkan oleh Presiden Donald Trump lewat Twitter. Pernyataan itu datang hampir dua bulan setelah Wakil Presiden Mike Pence menyatakan tujuan mempersingkat empat tahun dari timeline NASA sebelumnya untuk menempatkan astronot kembali ke bulan untuk pertama kalinya sejak 1972.


Peningkatan yang diusulkan akan membawa total tingkat pengeluaran NASA untuk tahun fiskal 2020 menjadi $ 22,6 miliar. Sebagian besar peningkatan diperuntukkan untuk penelitian dan pengembangan sistem pendaratan bulan manusia, menurut ringkasan yang disediakan oleh NASA.

"Di bawah pemerintahan saya, kami memulihkan @NASA menjadi luar biasa dan kami akan kembali ke Bulan, lalu Mars," tweet Trump pada Senin seperti dikutip dari Reuters. 

NASA sebelumnya memiliki tujuan mengembalikan pesawat ruang angkasa yang diawaki menuju bulan pada tahun 2028, setelah pertama kali menempatkan stasiun "Gateway" ke orbit bulan pada tahun 2024.

Sementara, Administrator NASA Jim Bridenstine menyebut permintaan dana yang direvisi itu sebagai “uang muka kepercayaan” dari Gedung Putih. "Tujuan kami di sini adalah untuk membangun program yang membawa kami ke bulan secepat mungkin," kata Bridenstine.

Namun, bagi Phil Larson, mantan penasihat kebijakan luar angkasa di jaman presiden Barack Obama mempertanyakan apakah kongres telah sepenuhnya menyetujui ambisi Trump untuk mempercepat eksplorasi manusia ke bulan. 

Menurut Phil, bila tidak ada dukungan kongres yang memadai, maka hal ini akan buang-buang waktu dan menimbulkan persoalan politik yang beresiko.


Sumber : Reuters
Editor: Yoyok

Video Pilihan


Close [X]
×