Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pasar keuangan global bergerak hati-hati pada Selasa (21/4/2026), menyusul ketidakpastian arah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS Donald Trump memperpanjang batas waktu gencatan senjata setelah penutupan pasar, namun sinyal dari Washington dan Teheran yang belum jelas membuat investor memilih bersikap defensif.
Minyak dan dolar AS menguat, sementara saham Wall Street terkoreksi. Pelaku pasar masih menunggu kepastian apakah pembicaraan damai benar-benar akan berlangsung atau kembali buntu.
Di pasar saham, indeks utama AS turun sekitar 0,6%. Hampir seluruh sektor di S&P 500 melemah, kecuali energi yang naik 1,3% seiring lonjakan harga minyak sekitar 3%.
Baca Juga: Iran Tetap Menolak Kesepakatan Menjelang Batas Waktu Gencatan Senjata Trump
Sektor maskapai ikut tertekan, dengan saham American Airlines anjlok 4% untuk hari kedua berturut-turut dan United Airlines turun 3%. Sementara itu, saham Apple jatuh 2,5%, mencatat penurunan terbesar dalam dua bulan terakhir.
Pergerakan bursa global cenderung beragam. Pasar Asia menguat, dengan indeks KOSPI Korea Selatan melonjak dan berada di jalur kinerja bulanan terbaik sejak 1998. Sebaliknya, bursa Eropa melemah sekitar 1%.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Euro mencatat pelemahan terbesar di antara mata uang G10, sementara sejumlah mata uang negara berkembang seperti peso Chile, rand Afrika Selatan, dan forint Hungaria juga tertekan.
Dari sisi obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor pendek naik tajam hingga 9 basis poin, memicu perataan kurva imbal hasil terbesar dalam dua pekan. Imbal hasil obligasi Jepang turun, sedangkan obligasi Eropa justru naik.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi dinamika kebijakan moneter AS. Dalam sidang konfirmasi di Senat, calon Ketua The Fed Kevin Warsh melontarkan kritik terhadap bank sentral atas lonjakan inflasi pascapandemi dan mendorong perubahan besar dalam kerangka kebijakan.
Baca Juga: Trump Beri Tenggat Waktu Selasa (7/4), Ini Konsekuensi Jika Tuntutan AS Tak Dipenuhi
Ia menegaskan independensi bank sentral tetap penting, meski membuka peluang reformasi signifikan.
Di sisi lain, komentar Trump kembali mengguncang sektor korporasi. Kali ini, industri penerbangan menjadi sasaran setelah ia menolak potensi merger antara United dan American Airlines, serta menyebut ingin melihat Spirit Airlines diakuisisi di tengah proses kebangkrutan.
Pernyataan tersebut langsung menekan saham maskapai.
Sentimen negatif juga datang dari Apple. Perusahaan mengumumkan CEO Tim Cook akan mundur pada September dan beralih menjadi ketua eksekutif, digantikan oleh John Ternus.
Investor kini mempertanyakan arah strategi Apple, terutama terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI), yang justru tidak disinggung dalam pengumuman resmi tersebut.
Baca Juga: Bursa Global Bergeming, Harga Minyak Melonjak Jelang Batas Waktu Trump untuk Iran
Untuk perdagangan selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah faktor kunci, mulai dari perkembangan situasi Timur Tengah, pergerakan harga energi, hingga keputusan suku bunga di beberapa negara termasuk Indonesia dan Turki.
Data ekonomi seperti inflasi Inggris, kepercayaan konsumen zona euro, serta lelang obligasi AS juga berpotensi memengaruhi arah pasar.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan, pasar global tampaknya masih akan bergerak fluktuatif, menunggu kepastian yang lebih jelas dari berbagai front utama.












